Hikayat Sang Maut


Hikayat Sang Maut

1600FG100_080

            Diriwayatkan dalam suatu hadis bahwa tatkala Malaikat Maut diciptakan oleh Allah Ta’ala, dihijabi-Nya-lah dengan sejuta hijab. Tubuh sang Malaikat itu besarnya lebih besar daripada tujuh lapis langit dan bumi. Sebelumnya ia dirantai dengan 70.000 rantai. Jarak dari tiap-tiap rantainya berjarak sama dengan tujuh ratus tahun perjalanan. Tidak ada seorang pun dari para malaikat yang mendekati dan mengetahui wujudnya.

Hanya terkadang suaranya saja yang terdengar. Hingga ketika Nabi Adam tercipta, Allah SWT menyerahkan pengurusan Malaikat Maut kepada Malaikat Izrail.

Izrail bertanya mengenai Malaikat Maut itu, "Ya Tuhanku, siapakah itu?"

Kemudian Allah menyibakkan hijab Malaikat Maut, sehingga terlihatlah sang Malaikat Maut oleh Mahikat Izrail. Dan para Malaikat yang lainnya diperintahkan oleh Allah untuk berdiri melihat Maut.

Malaikat Maut diperintahkan oleh Allah SWT untuk terbang agar dapat disaksikan oleh seluruh malaikat. Subhanallah… para malaikat jatuh pingsan melihat wujud Maut itu! Seribu tahun kemudian baru siuman.

Malaikat bertanya kepada Allah. "Ya Tuhanku, adakah Kauciptakan makhluk-Mu yang lebih besar daripada Maut itu’"

Allah menjawab, "Aku yang menciptakan dan Aku jugalah yang lebih besar daripada dia. Sesungguhnya seluruh makhluk merasakan maut juga."

Allah SWT berfirman kepada Izrail, "Sesungguhnya Aku menyerahkan
pengurusan Maut itu kepada engkau."

Sahut Izrail, "Ya Tuhanku, dengan kekuatan yang mana hamba-Mu memegang sebab dia lebih besar daripada hamba."

Allah pun mengkaruniai Izrail kekuatan yang lebih besar daripada Maut, sehingga Izrail dapat memegang Malaikat Maut ini. Malaikat itu pun pasrah terhadap pemeliharaan oleh Izrail tersebut, karena memang kehendak Allah semata.

Pada suatu waktu, Izrail datang kepada Allah untuk mengajukan suatu permohonan, katanya, "Ya Rabbi, karuniailah kiranya kepada hamba-Mu suara yang lantang yang membahana ke seluruh langit ini."

Allah pun mengabulkannya. Mulailah Malaikat Maut menyeru-nyeru dengan sangat lantangnya.

"Akulah Maut yang menceraikan antara seluruh kekasih dengan kekasihnya. Dan akulah yang menceraikan antara isteri dan suaminya. Dan akulah yang menceraikan seluruh anak dengan ibunya. Dan akulah yang menceraikan antara seluruh saudara laki-lakinya dengan saudara perempuannya. Dan akulah yang mengerasi pada seluruh bani Adam. Dan akulah yang membinasakan seluruh rumah dan isinya. Akulah yang mematikan kamu, walaupun kamu berada di dalam keranda besi sekalipun, tidak ada satu pun juga yang lepas dari aku, melainkan akan merasakan maut juga," seru Malaikat Maut.

Ketika didatangkan Malaikat Maut kepada seseorang, maka berdirilah sang Maut di hadapannya seperti rupa orang yang hendak mati itu. Ditanyalah Maut,

"Siapakah engkau, dan apa keinginanmu?"

Sahut Malaikat Maut, "Akulah Maut yang mengeluarkan engkau dari dalam dunia ini, dan akulah yang menjadikan anakmu yatim dan menjadikan isterimu seorang janda, membuat seluruh harta warisanmu dipusakai oleh orang yang tidak engkau cintai sekalipun pada masa hidupmu."

Mendengar perkataan dari Maut, orang ini memalingkan mukanya ke samping. Namun, di arah sampingnya, Maut sudah ada. Demikianlah apabila sudah ditakdirkan seseorang merasakan maut, tidak ada siapapun yang bisa menghalanginya.

Malaikat Maut menetap di langit ke tujuh diriwayat yang lain, menetapnya di langit keempat. Allah menciptakannya dari nur. Dia Memiliki kaki, memiliki sayap yang berjumlah 70.000 buah. Tubuhnya penuh oleh mata dan lidah. Tidak ada seorang pun makhluk yang bernyawa yang wajahnya tidak terdapat pada tubuh Malaikat ini. Ketika waktu kematian seorang makhluk telah tiba, maka wajah suatu makhluk yang telah diambil di dalam tubuhnya itulah yang akan merasakan maut.

Diriwayatkan bahwa pada tubuh maut terdapat empat muka. Pertama, di wajahnya; kedua, di kepalanya; ketiga, di lehernya; keempat, pada telapak kakinya.

Tatkala nyawa para nabi dan malaikat akan diambil, wajah mereka yang berada di kepala Malaikat Maut pun diambil. Bagi orang-orang mukmin, wajah-wajah mereka tersimpan di wajah sang Maut. Sedangkan bagi orang-orang kafir, wajahnya tersimpan di lehernya. Bagi bangsa jin, wajah mereka tersimpan di bagian kedua kakinya. Sebelah kakinya di tepi surga, dan sebelah kaki yang lainnya adalah di tepi neraka. Maut itu sendiri tidak langsung mengambil nyawa suatu makhluk, akan tetapi ada malaikat yang disuruh oleh Allah SWT untuk mengambilnya.

Ketika Allah SWT mematikan seluruh manusia dan makhluk lainnya, maka hilanglah seluruh mata yang ada di tubuh maut. Kemudian hidup lagi delapan malaikat, yakni-Israfil, Mikail, Izrail, Jibril, serta empat malaikat yang mengusung ‘Arsy. Karena wajah dan tangan ke delapan malaikat itu tidak terdapat pada tubuh Maut.

Kedelapan Malaikat itu datang kepada Allah SWT dan berbicara, "Ya Rabbi, ketika Engkau ambil nyawa seluruh hamba-Mu, dan atas sebab apa Kau berbuat demikian."

Allah menjawab, "Mahasuci Aku, hai Malaikat Maut, sesungguhnya hal ini berasal dari ilmu-Ku yang gaib, tidak juga mengetahui selain dari-Ku. Apabila (datang) ajal seorang dari hamba-Ku, (maka) adalah seluruh malaikat yang memerintahkan nafas dan seluruh malaikat yang mengatur rejeki, dan seluruh amal datang kepadamu, dan mereka itu memberi tahu kepada engkau, kata mereka bahwa telah habislah umurnya dan habislah rejekinya dan tidak ada lagi seluruh amalnya”. Dan jika termasuk golongan yang celaka, ditulis oleh malaikat dengan cahaya suluk yang hitam. Kemudian dibawa kepada Malaikat Maut. Jika orang itu termasuk golongan yang berbahagia, maka tertulis namanya dengan cahaya dan sekelilingnya pun bercahaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: