Kisah Keluarnya Adam-Hawa dari Surga


Kisah Keluarnya Adam-Hawa dari Surga

fg_1600_003

Masuknya Iblis ke dalam sorga untuk memperdaya adam.

            Setelah Adam dinobatkan sebagai khalifah, beliau kemudian tinggal dalam sorga Janatul Firdaus bersama istrinya Hawa. Adam berpikir bahwa seluruh pintu sorga begitu kokohnya; tidak mungkin dapat dimasuki oleh Iblis. Di samping itu, katanya dalam hati, bahwa apa kesalahannya terhadap Iblis, lagi pula Iblis sangat jauh dengan dirinya yang berada di bumi, dan Adam as. di sorga.

Iblis senantiasa mencari jalan ingin memperdayakan Adam a.s., hingga membinasakannya. Iblis mulai mencari kesempatan untuk menyesatkannya. Iblis pun pergi dari bumi lapis pertama, menuju sorga yang melalui tujuh lapis langit.

Singkat cerita, iblis telah tiba di depan pintu sorga. Dengan sabar ia menanti terbukanya pintu itu. Tiba-tiba datang ke dekat pintu sorga seekor burung merak. Merak melihat ke luar melalui celah-celah dinding sorga, karena didengarnya ada suara tangisan di sana.

"Siapa engkau ini?" tanya merak.

"Aku ini seorang malaikat di antara para malaikat yang banyak. Dan aku sangat ingin bertemu dengan engkau," jawab Iblis.

"Mengapa engkau duduk di sini. Apa dayamu hendak bertemu dengan aku ini?" tanya merak lagi.

Read the rest of this entry »

Advertisements

SI PENUNGGANG KUDA DAN ULAR


SI PENUNGGANG KUDA DAN ULAR

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “sangkalan” orang berpengetahuan lebih berharga daripada, “dukungan” si bodoh.

Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam jangkauan pengalaman yang lebih agung, juga benar dalam taraf pengalaman yang lebih rendah. Hal ini terwujud dalam kebiasaan Sang Bijak, yang telah menurunkan kisah Si Penunggang Kuda dan Ular.

Read the rest of this entry »

ULAR DAN MERAK


ULAR DAN MERAK

Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung -karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan Bhokara guna mencari ilmu yang lebih tinggi. Gurunya menasehatkan agar ia berjalan ke arah selatan, dan katanya, “Carilah makna Merak dan Ular.” tentu saja anjuran itu membuat Adi berpikir keras.

Ia mengembarai Khorasan dan akhirnya sampai di Irak. Di negeri Irak, ia benar-benar menemukan tempat yang terdapat seekor merak dan seekor ular. Adipun mengajak bicara mereka. Kedua binatang itu berkata, “Kami sedang memperbincangkan keunggulan kami masing-masing.”

“Nah, justru itu yang ingin kuketahui,” kata Adi. “Teruskan berbincang-bincang.”

“Rasanya, akulah yang lebih berguna,” kata Merak. “Aku melambangkan cita-cita, perjalanan ke langit keindahan sorgawi, dan karenanya juga pengetahuan adiluhung. Adalah tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan cara menirukan, tentang segi-segi dirinya yang tak dilihatnya.”

“Sebaliknya, aku,” kata Ular, sambil mendesis pelahan, “melambangkan hal itu juga. Seperti manusia, aku terikat pada bumi Kenyataan itu menyebabkan manusia menyadari dirinya. Juga seperti manusia, aku lentur, bias berkelok-kelok menyusur tanah. Manusia sering melupakan kenyataan itu. Menurut kisah , akulah penjaga harta yang tersembunyi di bumi.”

“Tetapi kau menjijikkan,” teriak Merak. “Kau licik, licin, dan berbahaya.”

“Kau menyebut sifat-sifat kemanusiaanku,” kata Ular, “sedangkan aku lebih suka menunjukkan sifat-sifatku yang lain, yang sudah kusebut-sebut tadi. Sekarang, lihat dirimu sendiri: kau sombong, kegemukan, dan suaramu serak. Kakimu terlalu besar, bulu-bulumu berlebihan panjangnya.”

Sampai disini Adi menyela, “Hanya ketidak-cocokanmulah yang telah menyebabkan aku mengetahui bahwa tak ada di antara kalian yang benar. Namun kita jelas-jelas melihat, apabila kalian sama-sama meninggalkan keasyikan diri sendiri, secara bersama-sama kalian bisa memberi pesan bagi kemanusiaan.”

Dan, sementara dua pihak yang bertengkar itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka bagi kemanusiaan: “Manusia melata di tanah bagai Si Ular. Ia bisa melayang tinggi bagai Burung. Namun, karena tamak seperti Ular, ia tetap mempertahankan kepentingan diri sendiri ketika berusaha terbang, dan mereka menjadi seperti Merak; terlampau sombong. Dalam diri Merak, kita melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Pada kilauan Ular, kita menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu menjadi terlalu berbunga-bunga.”

Dan kemudian terdengar Suara dari dalam berbicara kepada Adi, “Itu belum lengkap. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan, yang merupakan faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah merasa aman dalam jenis kehidupannya sendiri, beranggapan bahwa hal itu merupakan perwujudan suatu kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang seekor menjaga harta dan tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, harta juga, namun tidak bias mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Di Samping ketidakmampuan keduanya untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang terbuka bagi mereka keduanya pun melambangkan kesempatan itu –tentu bagi mereka yang bias melihat dan mendengarnya.”

Catatan

Pemujaan Ular dan Merak di Irak didasarkan pada ajaran seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas. Pemujaan itu dianggap suatu misteri oleh kebanyakan orientalis.

Kisah ini, yang tercatat dalam legenda, menunjukkan bagaimana guru-guru darwis membentuk “mazhab-mazhab”-nya berdasarkan pelbagai lambang, yang dipilih untuk memberi contoh ajaran-ajarannya.

Dalam bahasa Arab, “Merak” melambangkan juga “perhiasan;” sedangkan “Ular,” memiliki bentuk huruf yang sama dengan “organisme” dan “kehidupan.” Oleh karena itu perlambangan Pemujaan Malaikat Merak yang tersembunyi -Kaum Yezidis- adalah suatu cara untuk menunjukkan “Bagian Dalam dan Luar,” rumus rumus Sufi tradisional.

Pemujaan itu masih ada di Timur Tengah, dan memiliki penganut (tak ada di antara mereka itu yang orang Irak) di Inggris dan Amerika Serikat.

Read the rest of this entry »