Memperoleh Hati Yang Khusyu


Memperoleh Hati Yang Khusyu

1600FG100_2_007

         Dalam kitab Futûhatul Makiyyah, karya Ibnu Arabi,  diceritakan kisah-kisah tentang orang yang khusyu. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf kepada gurunya. Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi.

Anak muda itu berkata, “Semalam, aku khatamkan Al-Quran dalam salat malamku.”

Gurunya berkata, “Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu.”

Esok harinya, pemuda itu mengeluh, “Ya Ustadz, tadi malam saya tidak sanggup menyelesaikan Al-Quran lebih dari setengahnya.”

Gurunya menjawab, “Kalau begitu, nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan di hadapanmu para sahabat Nabi yang mendengarkan Al-Quran itu langsung dari Rasulullah saw.”

Keesokan harinya, pemuda itu berkata, “Ya Ustadz, semalam aku tak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al-Quran itu.”

“Nanti malam,” kata gurunya, “bacalah Al-Quran dengan menghadirkan Rasulullah saw di hadapanmu, yang kepadanya Al-Quran itu turun.”

Esok paginya pemuda itu bercerita,“Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan Al-Quran itu satu juz saja. Itu pun dengan susah payah.”

Sang guru kembali berkata, “Nanti malam, bacalah Al-Quran itu dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al-Quran kepada Rasulullah saw.”

Esoknya, pemuda itu bercerita bahwa ia tak sanggup menyelesaikan satu juz Al-Quran.

Gurunya lalu berkata, “Nanti bila engkau membaca Al-Quran, hadirkan Allah swt di hadapanmu. Karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al-Quran itu adalah Allah swt. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepadamu.”

Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, “Apa yang terjadi?”

Anak muda itu menjawab, “Aku tak bisa menyelesaikan hatta Al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, lidahku tak sanggup. Karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucapkan: Tuhan, kepadamu aku beribadat, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memperhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. ” Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.

catatan :

Sebetulnya yang diceritakan guru itu kepada muridnya adalah cara memperoleh hati yang khusyu. Hati yang khusyu adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah swt di hadapan kita. Hal itu membutuhkan riyadhah-riyadhah terlebih dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: