Mayoritas Syi’ah di Indonesia adalah Syi’ah Intelektual


Mayoritas Syi’ah di Indonesia adalah Syi’ah Intelektual

Berikut adalah nukilan wawancara Arief Subhan dan Nasrullah Ali-Fauzi, wartawan Ulumul Qur’an, dengan KH Jalaluddin Rahmat, yang lebih akrab dipanggil Kang Jalal, seputar maraknya perkembangan pemikiran Islam bermazhab Syi’ah di Indonesia. Kang Jalal, adalah salah seorang cendekiawan Muslim yang sering dianggap sebagai tokoh Syi’ah di Indonesia.

Ada yang bilang bahwa Syi’ah di Indonesia sebenarnya bukan mazhab baru, tapi sudah lama. Hanya saja mungkin ia tidak tersebar luas sebagaimana mazhab Sunni. Bagaimana Kang Jalal melihat perkembangan Syi’ah di negeri ini ?

Ada beberapa teori tentang kedatangan Syi’ah ke Indonesia. Teori pertama merujuk pada masa penyebaran Islam di Indonesia. Jadi menurut teori ini, dahulu orang-orang Syi’ah yang dikejar-kejar oleh para penguasa Abbasiyah lari dari Timur Tengah sebelah utara, yang sekarang mungkin daerah Irak, ke sebelah selatan di bawah pimpinan seorang yang bernama Ahmad Muhajir sampai di Yaman. Mereka menghentikan pelarian di puncak-puncak bukit yang terjal.

Menurut mereka, di sana sudah aman ketika itu. Kisah ini ada dimuat dalam beberapa kitab Syi’ah. Pemimpinnya, Ahmad Muhajir, katanya waktu itu mematahkan pedangnya dan kemudian mengatakan, “Mulai saat ini kita ganti perjuangan kita dengan pena …”

Kemudian mereka semua secara lahir menganut mazhab Syafi’i. Mereka bertaqiyyah sebagai pengikut mazhab Syafi’i di daerah Yaman, Hadramaut. Sehingga dalam kamus Munjid edisi lama, ada kata “Hadramaut” ditulis begini : sukkanuha Syi’iyyuna Syafi’iyyuna, penduduknya orang-orang Syi’i yang bermazhab Syafi’i. Nah, dari Hadramaut inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum Alawi, orang-orang keturunan Sayyid atau yang mengklaim sebagai keturunan Sayyid. Mereka datang ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Tapi ketika mereka datang ke Indonesia, di luar mereka Syafi’i, di dalam mereka Syii.

Belakangan ada bukti-bukti lain yang memperkuat teori ini. Misalnya pernyataan Gus Dur, bahwa NU secara kultural adalah Syi’ah. Hal itu karena tradisi Syafi’i di sini, berbeda dengan tradisi Syafi’i di negeri-negeri lain, sangat kental diwarnai oleh tradisi-tradisi Syi’ah. Ada beberapa shalawat yang khas Syi’ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlubait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan, itu semua tradisi Syi’ah. Tapi tradisi itu di sini lahir dalam bentuk mazhab Syafi’i.

Masih ada lagi bukti-bukti ritus khas Syi’ah, ialah tahlilan hari kesatu atau ke-40 dan juga haul. Itu tradisi Syi’ah yang tidak dikenal pada mazhab Syafi’i yang lain, misalnya Syafi’i di Mesir. Lalu di kalangan NU, setiap malam Jumat sering dibacakan shalawat. Pada shalawat itu disebutkan seluruh Imam Syi’ah yang 12. Itu mereka lakukan setiap malam Jumat, seperti pembaharuan bai’at, kepatuhan pada 12 Imam.

Untuk memperkuat itu, ada juga kebiasaan orang-orang Indonesia yang menganut mazhab Syafi’i untuk menghormati, kadang-kadang secara berlebihan, keturunan Nabi yang mereka anggap sebagai Ahlubait. Saya sebut berlebihan karena menurut orang-orang Syi’ah, Ahlubait itu hanya terbatas pada 12 Imam yang maksum. Jadi tidak semua keturunan Nabi itu Ahlubait.

Tapi di Indonesia sini, kalangan Muslim tradisional menganggap semua keturunan Nabi termasuk Ahlubait. Juga mereka percaya bahwa semua Ahlubaititu pasti masuk sorga, karena mereka semua tak berdosa.

Kemudian di Surabaya ada seorang peneliti (Agus Sunyoto, staf Lembaga Penerangan & Laboratorium Islam Surabaya) yang melakukan penelitian terhadap kuburan-kuburan di Jawa Timur. Ia menemukan bahwa kuburan-kuburan itu adalah kuburan-kuburan orang Syi’ah. Ia menduga keras bahwa Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia itu adalah Islam Syi’ah.

Kemudian Ali Hasymi juga pernah menulis buku tentang Syi’ah di Indonesia, dan ia berteori bahwa Islam yang pertama datang ke Indonesia itu adalah Islam Syi’ah. Menurut Agus Sunyoto, sebagian besar dari Sembilan Wali itu adalah Syi’ah, kecuali satu yang Sunni.

Teori kedua, Islam yang datang ke Indonesia itu Islam Sunni, tapi belakangan kemudian masuklah Syi’ah terutama melalui aliran-aliran tarekat. Soalnya dalam tarekat, Syi’ah dan Sunni bertemu sejak lama. Ambil contoh tarekat Qadariyah-Naqsyabandiyah, silsilah-silsilahnya bersambung pada Imam-imam Syi’ah.

Silsilahnya begini : dari Allah, malaikat Jibril, Rasulullah, Ali, Husein, Ali bin Husein dst sampai Imam Ali Riza. Dari situ barulah keluar pada silsilah yang lain. Tapi tujuh atau delapan silsilah pertama adalah para Imam Syi’ah. Jadi menurut teori ini, ritus-ritus yang nampaknya menunjukkan bahwa Syi’ah pertama kali datang ke Indonesia, sebenarnya ritus-ritus itu hanya sekadar menunjukkan adanya pengaruh Syi’ah yang masuk dalam pemikiran Ahlusunnah lewat Syafi’i.

Ada juga yang punya teori, karena Islam dulu pernah disebarkan ke Indonesia lewat orang-orang Persia. Ada yang menyebutkan mereka pernah tingggal di Gujarat, India Barat yang kebanyakan adalah Syi’ah.

Teori ketiga, Syi’ah itu baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII), yang dimulai dengan masuknya tulisan-tulisan Ali Syariati dan pemikir Islam lainnya. Sebetulnya banyak orang yang terpengaruh Syi’ah hanya karena peristiwa RII itu. Atau belakangan, terkadang orang mendefinisikan Syi’ah itu terhadap siapa saja yang bersimpati pada RII, meski tidak banyak kenal Syi’ah. Seperti Mas Amien Rais, misalnya, pernah menerima gelar Syi’ah juga. Bahkan sebuah buku kecil pernah ditulis tentang ciri keSyi’ahan Amien Rais itu. Saya kira sebabnya sederhana saja : karena Mas Amien Rais memang sering memuji RII. Boleh jadi ada juga orang yang menyebut Mas Dawam Rahardjo itu Syi’ah, karena ia sangat apresiatif terhadap Iran, sampai seringkali memuji-muji ulama Iran.

Sementara ini ada dugaan bahwa di antara 4 mazhab fiqih itu, yang paling dekat dengan Syi’ah adalah mazhab Syafi’i. Misalnya, Imam Syafi’i sendiri pernah mendapat tuduhan dari ulama lain bahwa dirinya itu Syi’ah. Bagaimana pendapat Kang Jalal ?

Salah satu dugaan yang bisa kita pahami sebagai argumentasi untuk menolak Syi’ah yang berbaju Syafi’i ialah, kenyataan bahwa Imam Syafi’i sendiri sangat simpatik terhadap Syi’ah. Banyak syairnya tentang mazhab Ahlubait, dalam syair-syair itu tampak jelas simpati Imam Syafi’i terhadap Sayyidina Ali. Misalnya, “Keluarga Rasulullah adalah wasilahku”, atau “Aku akan mengendarai perahu Ahlubait”, atau juga “Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syi’ah, biarlah seluruh jin dan manusia tahu bahwa aku Syi’ah.” Dan masih banyak lagi.

Jadi argumentasinya bukan bahwa Islam yang datang ke Indonesia itu Syi’ah yang berbaju Syafi’i, tapi memang mazhab Syafi’i. Sebab Imam Syafi’i sendiri sangat simpati terhadap Syi’ah, bahkan menurut riwayat, Imam Syafi’i pernah diseret dari Hijaz hingga Syria dalam belenggu besi dan dihadapkan pada Harun Al-Rasyid. Satu persatu kawannya “dipotong” dan hanya Imam Syafi’i yang selamat. Konon, Imam Syafi’i diseret begitu karena simpatinya terhadap Syi’ah. Sebagian malah menduga bahwa Imam Syafi’i bukan hanya bersimpati saja, tapi juga termasuk orang yang berpaham Syi’ah.

Jalaluddin al-Suyuti, yang menulis kitab tafsir Durru al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, juga dicurigai sebagai Syi’ah karena banyak menuturkan hadits tentang keutamaan keluarga Nabi. Tapi hal seperti itu bukan hal yang baru. Banyak ahli hadits yang dituduh sebagai Syi’ah hanya karena banyak meriwayatkan tentang keutamaan keluarga Nabi. Al-Turmudzi misalnya, dikeroyok orang dan tubuhnya diinjak-injak sampai meninggal dalam perjalanan, hanya karena meriwayatkan tentang keutamaan Sayyidina Ali. Al-Turmudzi itu perawi hadits di kalangan Ahlusunnah. Ada juga perawi hadits dan ulama besar, Sulaiman al-A’mas, yang termasuk salah seorang rijal dalam Shahih Bukhari. Al-A’mas juga dituduh sebagai Syi’ah karena meriwayatkan tentang Sayyidina Ali dan sempat dipanggil oleh al-Mansur, ia hampir dihukum mati.

Kembali ke Imam Syafi’i, boleh jadi ia bukan Syi’ah. Tapi seorang yang memiliki pemikiran ilmiah, yang harus meriwayatkan hadits-hadits tentang Ali. Dari Imam Syafi’i keluar ucapan, “Ajaib benar hadits-hadits tentang Ali. Musuh-musuhnya tidak ingin meriwayatkannya, karena kebenciannya. Para pengikutnya juga tidak ingin melaporkannya, karena ketakutan mereka. Walaupun begitu, hadits-hadits tentang keutamaan Ali memenuhi di antara 2 jilid buku.”

Dari penjelasan Kang Jalal tadi, tampaknya definisi atau identifikasi tentang Syi’ah di Indonesia masih kabur. Menurut Kang Jalal sendiri, bagaimana ?

Memang sulit kita mengidentifikasikan Syi’ah di Indonesia ini. Dr Farid Alatas pernah melakukan penelitian tentang Syi’ah di Indonesia, dan ia mengalami kesulitan untuk mendefiniskan siapa Syi’ah itu. Jadi kalau saya misalnya, ingin meneliti Syi’ah di Indonesia, saya harus mengenal populasinya. Siapa yang akan saya wawancarai itu, tentu haruslah orang-orang Syi’ah. Tapi siapa yang disebut orang Syi’ah di Indonesia ? Nah, itu sulit definisinya. Karena itu juga sulit untuk menghitung berapa jumlahnya di Indonesia. Di sini saya ingin sebutkan beberapa definisi tentang Syi’ah di Indonesia.

Pertama, Syi’ah itu adalah orang-orang yang meyakini bahwa Sayyidina Ali adalah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Syi’ah seperti ini banyak. Termasuk juga Syi’ah Zaidiyyah yang mempunyai akar di Indonesia. Ada beberapa orang di antara Alawi yang merupakan pengikut Syi’ah Zaidiyyah, yang tidak menjalankan ritus-ritus Syi’ah, tapi akidahnya Syi’ah.

Kata sebagian orang, dan ini yang kedua, yang disebut orang Syi’ah itu adalah selain orang tersebut memegang akidahnya juga menjalankan ritus-ritusnya. fiqihnya juga fiqih Syi’ah. Ada yang menyebut Ustadz Muhammad Bagir sebagai Syi’ah, karena telah menerjemahkan rujukan-rujukan yang membela Syi’ah. Ia juga membela Syi’ah jika Syi’ah diserang. Tapi orang yang datang ke rumahnya akan tahu, bahwa ia seorang Sunni tulen, karena ritus-ritusnya, ibadah-ibadahnya semua serba Sunni. Pernah seorang ulama Syi’ah kecewa melihat Ustadz Bagir, karena tidak seSyi’ah seperti yang diduga. Jadi buat orang seperti ulama tersebut, Pak Bagir bukan Syi’ah, tapi buat yang lain, yang menggunakan definisi lain, Pak Bagir itu Syi’ah. Mungkin juga kalau ada orang yang mengikuti saya dalam kegiatan ibadah di sini, dan menyaksikan saya sholat di masjid Sunni, saya beribadah secara Sunni, maka mereka akan mengambil kesimpulan bahwa saya bukan Syi’ah.

Tapi mungkin lewat definisi yang lain, yakni definisi ketiga, Syi’ah itu adalah orang-orang yang terpengaruh oleh pemikiran Syi’ah, baik dalam bidang akidah, filsafat, atau tasawuf, dan menggunakan buku-buku Syi’ah sebagai rujukan. Atau juga, mereka yang dikenal membela ajaran-ajaran Syi’ah disebut sebagai Syi’ah. Dengan definisi itu, mungkin saya termasuk Syi’ah. Nah sekarang, kalau definisi itu kita sempitkan saja pada orang-orang yang, misalnya, akidahnya sudah Syi’ah, ritus-ritusnya sudah mereka jalankan, kita pun masih mengalami kesulitan. Sebab masalahnya bukan terletak pada apakah ia menjalankan ritus-ritus Syi’ah, atau, apakah ia menjalankan fiqih Syi’ah atau tidak ? Masalahnya bukan sekadar “Ya” atau “Tidak”, tapi masalah jumlah, masalah proporsi. Ada orang yang menjalankan fiqih Syi’ah itu 10% saja, misalnya sekadar ikut acara muharraman dan doa-doa saja.

Lepas dari definisi Syi’ah yang bermacam-macam, bagaimana sebenarnya perkembangan Syi’ah di Indonesia ini secara umum ?

Di sini saya ingin membagi tahapan penyebaran Syi’ah di Indonesia dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, adalah sebelum peristiwa RII. Saya punya bukti kuat bahwa sebelum RII sudah ada Syi’ah di Indonesia, baik Syi’ah Imamiyah, Zaidiyah maupun Ismailiyah. Tetapi pada waktu itu Syi’ah sangat eksklusif, jadi mereka tidak punya semangat misionaris untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Mereka menyimpan itu sebagai keyakinannya sendiri. Setelah RII, masuklah Syi’ah gelombang kedua, ditandai dengan sifatnya yang intelektual. Orang-orang yang simpatik terhadap Syi’ah ini kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Kebanyakan di antara mereka tertarik kepada Syi’ah, sebagai alternatif terhadap pemikiran-pemikiran Islam yang sudah ada. Ketika banyak orang tertarik pada pemikiran Neo-Marxisme, sebagian orang menemukan konsep serupa pada pemikiran Syi’ah, seperti pemikiran Ali Syariati, yaitu konsep-konsep orang tertindas, dimana dalam Islam diistilahkan sebagai para mustadh’afin, para pengikut nabi-nabi yang menentang para tiran.

Belakangan, mulailah Syi’ah menyebar di Indonesia dan mendapat reaksi keras, dari sementara kalangan Sunnni, ketika berhadapan dengan tuduhan-tuduhan tentang Syi’ah. Syi’ah gelombang kedua ini ingin berusaha menangkisnya, maka mulailah Syi’ah gelombang kedua ini bergerak keluar dari hal-hal intelektual belaka dan memasuki konsepsi Imamah yang dijadikan serangan dari orang-orang Sunni. Ternyata kemudian, karena pengaruh politik Saudi Arabia, buku-buku yang ditulis untuk menyerang Syi’ah makin banyak dan mengarah pada hal-hal yang bersifat fiqhiyah, misalnya tentang mut’ah, sujud di atas tanah dll. Serangan ini mendorong Syi’ah gelombang kedua untuk bergerak lebih jauh lagi mempelajari fiqih Syi’ah, apakah betul yang dituduhkan itu ? Sehingga ketertarikan mereka kepada ritus-ritus Syi’ah itu lebih banyak terjadi karena provokasi yang dilakukan sebagian ulama Ahlusunnah. Nah, pada gelombang kedua inilah kemudian terjadi dialog-dialog yang tak jarang menimbulkan friksi yang tajam di berbagai tempat, antara kalangan Syi’ah dan Sunni. Itu menandai kehadiran gelombang berikutnya, yaitu Syi’ah gelombang ketiga.

Setelah Syi’ah menyebar di Indonesia, pada akhir gelombang kedua itu kita melihat ada kebutuhan akan fiqih Syi’ah. Orang ingin belajar fiqih Syi’ah juga. Dan buku-buku yang masuk ke sini, sangat sedikit yang berkaitan dengan fiqih. Padahal kebutuhan akan fiqih mulai terasa, terutama karena serangan-serangan sementara kalangan Sunni terhadap fiqih Syi’ah. Ketika kebutuhan itu mulai terasa, datanglah orang-orang Indonesia yang pernah dididik di Qum. Jadi gelombang ketiga ini ditandai dengan kehadiran alumnus-alumnus Qum untuk memenuhi kebutuhan fiqih Syi’ah. Mulailah mereka memberikan pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat. Syi’ah gelombang ketiga ini juga ditandai dengan semangat misionaris yang tinggi, mulailah mereka mengajarkan fiqih Syi’ah di berbagai pengajian. Bisa jadi karena pendekatan yang fiqhiyah itu, dimensi intelektual pada kelompok ini sangat kurang, dan akhirnya mereka merekrut Syi’ah juga dari kalangan yang tidak begitu terpelajar. Ada juga yang membina Syi’ah gelombang kedua, tapi akhirnya kecewa, mungkin karena orientasi masing-masing yang berbeda.

Untuk waktu yang akan datang, bagaimana kira-kira perkembangan Syi’ah di Indonesia kelak ?

Beberapa waktu yang lalu saya diundang ke Universitas Hasanuddin Ujung Pandang untuk dialog Sunnah-Syi’ah. Penyelenggaranya adalah mahasiswa yang menyebut dirinya MPM (Mahasiswa Pecinta Mushalla). Dialog ukhuwah Islamiyah itu ditandai dengan kekerasan. Saya sebagai pembawa makalah dibantai, dicaci-maki. Saya sendiri tidak membalas. Menurut saya, ini sebetulnya gejala dari massa Syi’ah gelombang kedua, ketika terjadi konflik Sunni-Syi’ah yang cukup berat. Ini mirip sekali ketika saya berdiskusi dengan Pak Rasjidi di Pesantren Darunnajah. Suasanya sangat tegang.

Tapi dua minggu lalu (awal Oktober 1995), waktu saya ke sana lagi, seminar semacam itu dikunjungi oleh peserta yang jauh lebih banyak. Mungkin lebih dari 1000-an orang hadir di sana. Suasanya sangat ilmiah, tidak ada saling membantai, saling menyerang. Intinya, bagaimana setiap kelompok bisa belajar satu sama lain. Seakan-akan ada pesan dari situ : Biarlah Sunni tetap Sunni, Syi’ah tetap Syi’ah. Tapi hendaknya di antara kedua kelompok itu ada saling belajar satu sama lain. Saya sendiri membawakan makalah tentang apa yang bisa dipelajari dari Syi’ah oleh Sunni. Saya tunjukkan bagaimana orang-orang Syi’ah sudah lebih dahulu belajar dari Sunni. Sayyid Ali Khamenei, adalah penerjemah Kitab Fi Zhilal al-Quran ke dalam bahasa Persia. Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, tulisan al-Ghazali, diberi syarh oleh ulama-ulama Syi’ah dan dipelajari di pesantren-pesantren mereka. Bahkan Imam Khomeini menyebut Ibn ‘Arabi sebagai salah satu gurunya, padahal Ibn ‘Arabi adalah Syekh Akbar di kalangan Sunni.

Contoh lain, kalau kita pergi ke pasar kitab di Qum, walaupun tidak menghitung dengan cermat, saya bisa melihat bahwa 80% dari kitab-kitab yang ada di situ adalah kitab-kitab Ahlusunnah. Jadi di kalangan Syi’ah tidak ada ketakutan untuk membaca kitab-kitab Sunni, mereka sudah belajar tentang Sunni. Dari situ saya melihat ada suatu perkembangan baru bagi penyebaran Syi’ah. Kalau peristiwa di Ujung Pandang itu bisa dijadikan sebagai sebuah tonggak dalam perkembangan pemikiran Syi’ah di Indonesia, maka saya berani mengatakan bahwa eksistensi Syi’ah sudah diakui dan sudah tumbuh kecenderungan untuk hidup damai antara Sunni-Syi’ah.

Dari indikator itulah saya berpikir, apakah pemikiran Syi’ah akan mendapat tempat yang lebih luas di Indonesia ? Ya. Karena paling tidak, sekarang sudah ada pengakuan akan eksistensi mereka. Nanti penerusnya akan muncul. Bahkan bukan label Sunni dan Syi’ah saja. Sunni dan Syi’ah itu, mungkin, sudah tidak relevan lagi. Karena yang Sunni sudah sangat terpengaruh Syi’ah, dan yang Syi’ah itu juga sudah sangat terpengaruh Sunni. Sehingga label Sunni dan Syi’ah itu mungkin hanya diletakkan pada tataran abstrak saja, pada tataran konseptual belaka. Pada kehidupan sehari-hari, tidak terjadi pengelompokan menjadi kelompok Sunni atau Syi’ah. Bahkan menurut saya, tidak akan terbentuk satu ormas Syi’ah. Di masa depan, orang-orang Syi’ah akan terdapat pada setiap organisasi Sunni. Mereka diterima hadir sebagai bagian dari umat Islam, seperti halnya orang NU dan Muhammadiyah.

Sementara ini, bagaimana komentar pemerintah terhadap gerakan Syi’ah di Indonesia ?

Saya melihat ada toleransi dari pemerintah terhadap orang-orang Syi’ah. Sebab mereka melihat bahwa Syi’ah di Indonesia ini hanyalah Syi’ah intelektual. Mereka tidak merasa khawatir terhadap Syi’ah sebagai sebuah gerakan revolusioner.

Kalau tidak salah, pernah ada fatwa dari MUI …

Ya. Ada fatwa MUI untuk berhati-hati terhadap Syi’ah. Tapi untuk melarang Syi’ah, tidak ada. Karena pada waktu MUI mengeluarkan fatwa itu (melarang), beberapa tokoh cendekiawan Islam di MUI keberatan. Sehingga kata-katanya diperlunak, tidak lagi melarang, tapi pokoknya harus mewaspadai aliran Syi’ah. Apabila nanti ada kecurigaan dari pihak pemerintah terhadap Syi’ah, saya menduga kecurigaan itu akibat dari pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang anti Syi’ah, mereka berusaha memberikan opini tertentu kepada pemerintah, sehingga mereka kemudian mencurigai Syi’ah.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu di Semarang ada diskusi antara Departemen Agama dan ormas-ormas Islam, setelah diskusi mereka mengajukan resolusi untuk melarang Syi’ah, khususnya di Jawa Tengah. Itu terjadi setelah ada peristiwa seorang ustadz yang melakukan mut’ah dengan beberapa orang muridnya di Sragen. Ustadz itu, menurut saya, termasuk Syi’ah gelombang ketiga, yang lahir setelah kedatangan Syi’ah fiqhiyyah, yang dibawa oleh sebagian lulusan Qum itu. Tapi mereka sampai sekarang tetap merupakan minoritas, karena mayoritas Syi’ah di Indonesia ini adalah Syi’ah gelombang kedua. Dan kalau saya berbicara dari segi pemerintah, Syi’ah gelombang kedua itu lebih mudah diterima oleh pihak pemerintah daripada yang ketiga. Tapi saya pikir, Syi’ah gelombang ketiga itu pun hanya titik awal saja. Pada waktu yang lama, mereka akan lebih toleran. Maksud saya begini, aliran apapun dalam Islam, kalau orientasinya fiqih, maka akan cenderung mendorong konflik. Muhammadiyah dan NU itu mengalami konflik dari segi fiqih. Jadi aliran apapun, kalau dasarnya fiqih, akan melahirkan konflik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: