Manusia Kelahiran Ka’bah


Manusia Kelahiran Ka’bah

Ali (karramallahu wajhah) adalah pribadi yang terkumpul pada dirinya semua nilai-nilai Islam. Ali adalah pribadi yang komprehensif. Nahjul Balaghah adalah kalamnya: sebuah kitab yang setiap bagiannya mewakili dimensi yang berbeda-beda. Pada satu bagian dia berbicara dengan cara yang sama sekali berbeda dengan bagian yang lain. Di setiap tempat Ali mewakili suatu kepribadian yang lengkap. Artinya telah terkumpul padanya seluruh nilai-nilai insani.

Pada saat tertentu dia mewakili seorang pejuang yang gagah berani, seperti orang yang sejak zaman kanak-kanaknya telah dididik dan dilatih untuk menjadi anggota sebuah pasukan komando elit. Di tempat lain kita akan menemuinya sebagai seorang sufi, arif besar yang tidak peduli pada apa pun kecuali ibadah, doa dan munajat.

Maulawi Ar-Rumi, penyair-irfan Parsi berkata dalam syairnya :

Dalam keberanian

Engkau adalah singa Rabbani

Dalam maruah

Tidak seorang pun yang tahu

Siapa engkau yang sebenarnya!

Dalam syair yang lain dikatakan :

Dialah (Ali) yang menangis di mihrab

Di malam hari

Dan yang tersenyum di medan tempur

Saat bergelojaknya peperangan!

Safiyuddin Hilli (8H) dalam puisinya untuk Imam Ali :

Telah bersatu dalam dirimu

Pribadi yang berlawanan :

Zuhud, bijak, pemurah dan jagoan.

‘Abid, pahlawan, fakir dan dermawan.

Akhlakmu mempermalukan sepoi bayu,

karena kelembutannya.

Keberanian, kekuatan dan kekerasanmu,

menjadikan batu dan besi meleleh!

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang lain sedang berusaha menghancurkannya, selain Ali bin Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata kemudian mereka bergabung dengan pasukan pemberontak. Walaupun menurut hukum Islam, pemberontak harus diperangi, namun Imam Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyedarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak megah menuju Basrah.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpunkan pasukannya. Ketika dia sampai di perbatasan Basrah, di satu tempat yang bernama Al-Zawiyah, dia turun dari kudanya. Dia melakukan solat empat rakaat. Selesai solat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan airmatanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdoa:

“Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, dan yang memelihara bumi dan apa-apa ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik ‘Arasy nan agung. Inilah negeri Basrah. Aku mohon kepadaMu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baik yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bai’ahku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslimin.”

Ketika kedua pasukan sudah hampir, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah bin Abbas menemui pemimpin pasukan pemberontak, mengajak untuk bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat AI-Quran di tangan kanannya: “Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama AI-Quran. Jika tangannya terpotong peganglah AI-Quran ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.”

Seorang pemuda Kuffah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sababat-sahabatnya yang lain. Namun, tiada seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan AI-Quran kepada anak muda itu, “Bawalah AI-Quran ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: AI-Quran berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.”

Tanpa rasa gentar dan dengan penuh keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat AI-Quran dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil AI-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslimin. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini roboh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan doa untuknya, sementara airmatanya deras membasahi wajahnya.

“Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian yang mendahulukan serangan ke atas mereka. Jika kalian berjaya mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan rusakkan tubuh orang yang terbunuh. Apabila kalian sampai di perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan masuk ke rumah tanpa izin, jangan mengambil harta mereka sedikitpun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mengejek kamu. Jangan menghina pemimpin dan orang-orang saleh di antara mereka, karena mereka adalah orang yang lemah akalnya.”

Sejarah kemudiannya mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah tercalar. Ali sendiri memberikan maaf secara beramai-ramai. Sejarah juga mencatatkan bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul.

Muawiyah mengerahkan pasukannya untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat AI-Quran, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, segera menghentikan peperangan. Seperti kita semua ketahui, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak dikenali sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Dalam ukuran politik modern, Ali gagal. Musuh-musuhnya telah mengambil keuntungan daripada kecintaannya kepada perdamaian. Sebagian dari kawan-kawannya kemudian menjadi musuh karena salah faham. Apa pun yang terjadi, sebuah teladan telah kita perolehi.

Pertama, strategi apa pun untuk memelihara ukhuwwah Islamiyyah akan gagal, kalau tidak ada iktikad dari kedua belah pihak. Apabila yang satu membina jembatan sementara yang lain membuat benteng, maka keduanya tidak akan bertemu. Khutbah, ceramah, usrah, seminar, bahkan tindakan kekerasan pun tidak akan mempersatukan dua pihak yang berbeda kepentingan. Apabila satu pihak berusaha mengalah demi ukhuwwah dan membuka dirinya untuk memahami yang lain; sementara lawannya berusaha memanfaatkan sikap mengalah itu dan menutup diri untuk memahami yang lain, maka ukhuwwah tidak pernah akan terwujud.

Dewasa ini, di sini, berbagai golongan mulai melakukan pendekatan. Berbagai dialog dan seminar telah diadakan untuk membahas strategi ukhuwwah. Sayang sekali masih ada golongan yang menyambut uluran persahabatan dengan penuh kecurigaan, dan seruan ukhuwwah dengan buruk sangka. Mereka berusaha mencari-cari perbedaan ketika pihak yang lain mengajak untuk memperhatikan persamaan. Mereka membongkar aib golongan yang lain, sebagian besar dengan memanfaatkan kemampuan imajinasi yang disalahgunakan. Sebagai pengganti jembatan, mereka memdirikan tembok yang kukuh.

Kedua, sejarah mengajarkan kepada kita bahwa ketika kepentingan agama ditundukkan kepada kepentingan politik, ukhuwwah tidak pernah dapat dicapai. Dalam skala besar – antara Sunnah dan Syi’ah – pertentangan lebih banyak disebabkan oleh kepentingan politik berbanding disebabkan oleh perbedaan teologi. Pengalaman kita di dunia umat Islam juga menunjukkan bahwa agama lebih sering diatasnamakan daripada direalisasikan. Imbauan agama hanyalah hiasan yang dibungkus indah untuk menutupi (baca: “melegitimasi”) kepentingan politik.

Ketiga, menghadapi manuver politik, umumnya pembina jembatan tidak populer. Musuh-musuh sudah jelas akan mencurigainya. Sahabat-sahabat akan mengkhianatinya. Seperti jembatan, penyeru perdamaian harus bersedia untuk diinjak-injak oleh orang-orang yang mau menyeberang dari kedua-dua belah tebing. Pada masyarakat Islam yang sudah berpecah-belah dalam berbagai fanatik suku dan kubu, orang yang tidak memihak kepada satu golongan akan ditolak oleh semua pihak. Kebiasaannya kita lebih suka mengidentifikasikan orang lain melalui “bajunya” dan bukan niat dan tujuannya yang menyebabkan kita sukar untuk meletakkan mereka sebagai jembatan penghubung kepada berbagai golongan dan suku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: