Lihatlah Lebih Dekat …


Lihatlah Lebih Dekat …


Didalam kendaraan umum yang lumayan padat, seorang wanita berjilbab yang duduk dibangku dekat jendela terlihat sedang khusyu’ membaca Al Qur’an sakunya. Hingar bingar pedagang asongan dan peminta-minta tak mengusik konsentrasinya. Sementara disebelahnya, seorang wanita lainnya, menyodorkan sejumlah receh kepada peminta tak berkaki yang melewati mereka dengan cara ngesot.

Seringkali di dalam sebuah kendaraan umum kita menyaksikan fenomena seperti itu, entah si pembaca Al Qur’an atau orang-orang yang cukup dermawan menyisihkan sebagian rezekinya untuk kaum dha’if, bahkan keduanya.

Kita yang biasa berkendaraan umum, juga sudah sangat hapal dengan teriakan-teriakan ‘artis-artis’ jalanan, ataupun para penyair bus kota setelah mereka beraksi. “Kami hanya harapkan bunga-bunga sosial dari anda, tidak perlu berpura-pura tertidur dan jangan berlagak sombong jika tak memberi. Senyuman dan tangan terangkat anda sangat lebih kami hargai” begitu kira-kira.

Namun rupanya, masih banyak diantara kita yang malas sekedar mengangkat tangan, dan melebarkan senyum, dibarengi kata “maaf” pertanda tidak memberi. Bisa bermacam persepsi orang, tidak ada receh, susah ngambil uangnya, sebal dengan pengamennya (baik lagu yang dibawakan atau tampilan yang tidak sedap) atau memang dasarnya pelit.

Sopan, hormat dan sangat menghargai anda sebagai orang yang dimata mereka, sudah sukses dan mendapatkan kesempatan hidup lebih baik. Meski harus diakui ada sebagian kecil yang terang-terangan bersikap kasar sewaktu meminta dengan dalih kapok masuk penjara, plus tampang yang rada kriminal.

Masalahnya kemudian, pantaskah sikap angkuh kita perlihatkan hanya karena kebetulan memiliki rezeki sedikit lebih (dari mereka). Haruskah hingar bingar suara gitar dan teriakan suara sumbang mereka dibalas dengan cibiran? Atau yang juga perlu ditanyakan dalam diri ini, apakah Islam membedakan kaumnya berdasarkan profesi, lusuh-rapihnya pakaian, kumal-klimisnya penampilan atau aroma tubuh seseorang?

Ditempat lain, kita begitu rela menghabiskan sekian puluh, ratusan ribu untuk mentraktir kolega dan rekan kerja yang kalau mau jujur nilainya cuma sampai dimata para kolega itu. Namun jumlah yang tidak sepersepuluhnya yang kita keluarkan untuk para fakir miskin, anak yatim, peminta-minta, sumbangan masjid dan lain-lain. Padahal recehan yang kita lemparkan untuk kaum dhu’afa itu sungguh jauh lebih bernilai, hingga dimata Allah.

Banyak ayat yang sudah kita baca yang semestinya menyadarkan bahwa ayat Al Qur’an yang membahas ibadah sosial lebih banyak ketimbang ibadah ritual. Mungkin itu sangat terkait dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial, yang juga merupakan makna dibalik penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bahwa keberadaan manusia yang satu tidak bisa terlepas dari keberadaan manusia (makhluk) lainnya. Itu artinya, keberadaan mereka yang lemah juga terkait dengan diri ini yang mungkin saja menjadi bagian dari proses keterpurukan mereka. Atau setidaknya menambah lekat status lemahnya dari sikap arogansi dan kikir kita.

Padahal sesungguhnya, sangat banyak keuntungan yang kita raih dari orang-orang miskin, kaum fakir, anak-anak yatim piatu dan sebagainya. Setidaknya, predikat kita sebagai kaum the have, dan sebagai orang sukses karena mereka yang berstatus miskin dan tertinggal. Tidak ada sebutan orang kaya jika tidak ada orang miskin.

Selain itu, bayangkan jika tidak ada mereka, tidak ada yang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mengeruk sampah, menjadi pembantu rumah tangga, sopir dan kondektur, penyapu jalan, tukang koran, pelayan toko dan lain sebagainya. Bayangkan jika kita harus melayani semuanya sendiri tanpa bantuan mereka. Disinilah makna kebersamaan hidup, berdampingan dan saling membutuhkan berdasar aturan simbiosis mutualis dan win-win solution.

Belum lagi keuntungan yang dapat kita raih yakni berupa surga Allah hanya dengan menghormati hak-hak kaum dhu’afa, mengangkat yang jatuh dan membela yang lemah. Membangkitkan mereka dari keterpurukan yang mungkin saja menyeretnya kepada kekafiran. Dan itu bisa juga menyeret kita didepan pertanggungjawaban Allah karena membiarkan orang-orang miskin di depan mata kita berpaling dari agamanya karena kemiskinan.

Tentu kita bisa belajar dari Abu Dzar Al Ghifari, sahabat Rasulullah yang mendapat gelar pahlawan kaum lemah, pembela kaum tertindas diyakinkan Rasulullah menjadi salah satu penghuni surga.

Jadi lihatlah lebih dekat, tak perlu membusungkan dada hanya untuk memperjelas status sosial dihadapan mereka. Sekedar senyum mungkin sedikit membebaskan kita dari tuntutan pengadilan Allah. sentuhan kasih sayang dan cinta yang kita berikan kepada saudara kita itu, bukan hanya menorehkan do’a dari mulut mereka akan kita, melainkan juga mengembalikan kunci surga yang pernah kita biarkan lewat begitu saja selama ini. Wallahu a’lam bishshowaab.

(Abinya Iqna)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: