Kiblatnya Wanita, Kehormatannya Harta


Kiblatnya Wanita, Kehormatannya Harta

Sejak wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah saww, masalah moral sudah diangkat bergandengan dengan masalah aqidah. Antara keduanya terjalin hubungan yang sangat erat, di mana aqidah tanpa akhlaq berarti mandul. Akhlaq tanpa aqidah, bukan disebut akhlaq.

Dalam surat Al-`Alaq Allah berfiman,“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat? Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang berada di atas kebenaran? Atau dia menyuruh bertaqwa kepada Allah? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS al-`Alaq: 1-19)

Melalui ayat ini Allah mengingatkan manusia tentang asal-usulnya, bahwa mereka adalah ciptaan Allah yang bahan awalnya berupa segumpal darah. Tentang penciptaan ini tidak terlalu sulit untuk diyakini. Orang jahiliyah terdahulupun telah menyadari dan meyakininya. Hal itu ditegaskan oleh Allah pada ayat yang lain. Allah berfirman: “Dan sesunguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, `Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?` Tentu mereka akan menjawab, `Allah.`” (QS Luqman: 25)

Ayat senada juga dapat dijumpai sebagai berikut, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab Allah.” (QS az-Zuhruuf: 87)

Sayang, kepercayaan dan keyakinan mereka tentang penciptaan alam semesta termasuk dirinya itu tidak berkembang dan berbuah. Keyakinan hanyalah sebatas keyakinan, yang tidak mempengaruhi sikap berikutnya, karena hati mereka sudah tercemari penyakit syirik. Bibit tauhid telah dirusak oleh hama kemusyrikan sehingga tidak bisa tumbuh berkembang sesuai dengan harapan.

Semestinya manusia menyadari bahwa jasa Allah sangat besar pada dirinya, yang telah menciptakannya, kemudian memberinya ilmu pengetahuan. Padahal pada saat lahir, manusia tidaklah membawa ilmu pengetahuan. Ia tidak dalam keadaan tidak megetahui apa-apa, sebagaimana firman-Nya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS an-Nahl: 78)

Terhadap pemberian atau karunia Allah, ada sebagian manusia yang mensyukuri dengan melakukan penyembahan yang semurni dan seikhlas-ikhlasnya semata karena Allah. Namun dalam kenyataannya, sebagian manusia yang lain justru mengambil sikap berbeda. Mereka yang jiwanya telah rusak dan menyimpang, justru menolak kebenaran yang datangnya dari Allah, dan menginjak-injaknya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup (al-`Alaq: 6).

Ada dua sikap yang menjadi penyebab manusia bersikap melampaui batas. Pertama, karena manusia memandang dirinya serba cukup sehingga tidak membutuhkan pertolongan dan bantuan Penciptanya. Dengan ilmunya, mereka merasa bisa menyelesaikan berbagai masalah dan problem hidupnya. Dengan kekuatannya mereka bisa menundukkan alam untuk kepentingannya.

Sebab kedua dari pelampauan batas itu adalah ketidakyakinan mereka terhadap pengadilan Ilahi. Mereka tidak beriman kepada hari akhir, di mana seluruh amal perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas sesuai dengan timbangannya.

Untuk mengobati penyakit parah berupa pelampauan batas itu, Allah mengajak manusia untuk selalu berada dalam kesadaran bahwa segala kenikmatan yang telah diterima adalah dari Allah, bahwa mereka akan kembali kepada-Nya, dan akan menjalani pemeriksaan ketat pada saat hisab. Segala amal diperhitungkan, tidak ada yang terlewatkan.

Ayat pertama hingga ke delapan surat al-`Alaq memberikan penjelasan tentang hal ini. Itulah obat mujarab bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan keselamatan, yaitu jalan yang diridhai oleh Allah swt.

Ayat selanjutnya, memberi ancaman kepada mereka yang tetap membandel. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang-orang yang mendustakan lagi durhaka (al-`Alaq: 15-16).

Lagi-lagi Allah swt menjelaskan tentang moralitas jahiliyah, yaitu dusta. Kedustaan dalam pengertian ayat ini jauh lebih luas dibandingkan dengan sekadar berbohong, karena meliputi dusta terhadap Allah, dusta terhadap fitrahnya sendiri, dan dusta terhadap kebenaran yang didatangkan oleh Allah. Adakah kedustaan yang lebih berbahaya dari ketiganya?

Masyarakat sekarang ini mencoba untuk mendustakan Allah dan mendustakan fitrah kemanusiaannya. Mereka terjebak oleh pemikiran yang menyatakan bahwa moral itu hanyalah persoalan artifisial, yang tidak terlalu penting bagi kehidupan. Perasaan berdosa yang biasanya hinggap pada orang yang telah menjalani perbuatan salah, hanyalah menambah perasaan tertekan, yang pada fase berikutnya menyebabkan stres dan gangguan jiwa lainnya.

Pengaruh pemikiran Freud, Durkheim, atau Marx telah merajai pola pikir dan pola rasa generasi masa kini. Mereka manganggap bahwa moral adalah masalah artifisial yang tidak ada hubungannya dengan fitrah manusia, bahkan moral itu merupakan sesuatu yang datang dari luar yang dipaksakan kepada manusia. Menurut pandangan ini, moral mempunyai standar yang selalu berubah alias tidak tetap.

Paham ini mencoba untuk melawan fitrah manusia yang sebenarnya. Mereka mengingkari bahwa manusia adalah makhluq moral, yang dalam dirinya selalu ada panggilan hati. Inilah yang berusaha dihindari, bahkan dijauhi. Padahal Allah mengingatkan dalam ayat-Nya: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syam: 7-10)

Ayat ini menyangkal secara tidak langsung jika manusia disamakan dan disederajatkan dengan makhluq hewan yang tidak mempunyai nilai akhlaq atau moral. Manusia sama sekali berbeda, sebab pada dirinya terdapat dua pilihan jalan, sementara pada binatang hanya ada satu pilihan saja. Ketika binatang mengikuti instinknya, maka hewan itu tidak bisa dinilai apakah ia bermoral atau tidak, sebab itulah jalan satu-satunya.

Akan tetapi bagi manusia, terbentang di hadapananya dua pilihan jalan. Mereka tidak hanya diberi bekal pengetahuan tentang kedua jalan tersebut, tapi juga diberi kemampuan untuk memilih dan menjalani salah satunya. Semua tindak-tanduk manusia merupakan alternatif antara dua jalan, yaitu jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan.

Perilaku hewan tidak bisa dinilai, benar salahnya atau baik buruknya. Akan tetapi pada diri manusia selalu dapat ditentukan apakah benar atau salah, baik atau buruk, halal atau haram. Penilaian baik buruk itu adalah persoalan moral. Nah, di sinilah letak pentingnya penilaian tersebut. Oleh karenanya, yang paling penting bukanlah mencari-cari jawaban, apakah perbuatan manusia itu bernilai moral atau tidak, melainkan standar apa yang digunakan untuk menilai baik dan buruk tersebut.

Bila seseorang mengaku sebagai hamba Allah, dan beribadah semata-mata kepada-Nya, maka standar penilaian baik dan buruk itu tentu saja menggunakan standar Rabbani. Akan tetapi jika yang disembah selain Allah, maka standar yang dipakai adalah standar buatan tuhan palsu tersebut. Standar itu bisa berupa pemikiran ala Durkheim, Freud, ataupun Marx. Apapun bentuknya, produk pemikirannya tidak lebih dan tidak kurang merupakan pengembangan dari pemikiran syetan.

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak Adam supaya kamu tidak menyembah syetan? Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu, dan hendaklah kamu menyembah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yaasin: 60-61)

Nampaknya di sinilah letak persoalannya. Pembenahan moral harus dikaitkan dengan aqidah dan keyakinan yang benar. Akhir-akhir ini ada usaha dari sekelompok orang yang mencoba melepaskan ikatan moral dari agama. Mereka mengikuti jalan pikiran Barat yang mengaitkan moral hanya sebatas kontrak sosial. Jika hal ini yang terjadi, maka semua ikatan akan hancur, dan dengan sendirinya akan hancur pula moral.

Pengalaman di masa lalu telah cukup, ketika anak-anak sekolah tidak diajari moral agama, tapi dijejali moral Pancasila. Meskipun disebutkan bahwa nilai-nilai Pancasila digali dari nilai-nilai agama, tapi pada dasarnya tidak lebih dari sekadar falsafah dan pemikiran belaka. Karenanya, ikatan seperti itu sangat tidak kuat. Akibatnya, meskipun penataran telah menghabiskan dana triliunan rupiah, tapi moral bangsa tetap hancur berantakan. Apakah hal yang sama akan kita ulangi kembali?

Di sekolah, pelajaran akhlaq harus dikembalikan kepada agama asalnya. Kalau disebut pelajaran Budi Pekerti boleh-boleh saja, asalkan tetap diikat dengan tali agama. Jika pelajaran Budi Pekerti dibiarkan lepas sendiri dan menjadi pelajaran yang sama sekali tidak berhubungan dengan agama, sudah dapat dipastikan hasilnya. Sia-sia dan tidak ada gunanya. Kemerosotan moral sampai kapanpun tak bisa diobati, apalagi dihentikan sama sekali. Bangsa Indonesia akan tetap seperti hadits berikut ini:

“Akan tiba suatu masa atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut, dan kehormatan mereka hanya terletak pada materi semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta, emas, dan perak. Mereka adalah makhluq Allah yang terjelek dan tidak akan memperoleh bagian yang baik di sisi Allah.” (HR Ad-Dailami).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: