Sayang Ayah-Ibu


Sayang Ayah-Ibu

Jika suatu ketika kita tertimpa musibah sakit sehingga selama seminggu harus berdiam di rumah “menuju sehat”, bertemu dengan dokter dan perawat, bercengkrama dengan obat-obatan, menikmati wanginya karbol, memakan bubur, menyebalkan!

Namun, ADA SATU TEMAN YANG SENANTIASA MENEMANI, tak jemu-jemu datang dari pagi, keluar sebentar, siang kembali lagi, keluar lagi, malam datang lagi dan menginap, lalu pulang untuk mandi dan berangkat kuliah.

Begitulah yang dia kerjakan selama seminggu. Tentu saja karena DIA MERUPAKAN SALAH SATU TEMAN YANG PALING DEKAT DENGAN KITA SELAMA INI.. Kita pun akan melakukan hal yang sama jika sang teman ditimpa musibah yang sama.

Teman lain, yang juga dekat dengan kita, tak bisa datang terlalu sering. Tetapi ia senantiasa membawa makanan setiap kali datang. Bahkan lebih jauh lagi, ia memberi bantuan beberapa ratus ribu rupiah ketika kita harus keluar dari rumah “menuju sehat” tersebut.

Ia anak orang kaya, sudah bekerja pula disebuah perusahaan bonafide sehingga uang yang beberapa ratus ribu tadi tak begitu berarti baginya. Disamping itu ia masih kerap datang dan membelikan kita obat-obatan.

TEMAN YANG SENANTIASA MENUNGGUI KITA ADALAH SEORANG WANITA (anggaplah “kita” memiliki jenis kelamin wanita) YANG SANGAT BAIK HATI, MENCINTAI KITA DENGAN SEPENUH HATINYA. Ia bagaikan saudara yang bertemu di tanah perantauan, tak mungkin terlupakan.

Teman yang dengan senang hati memberikan bantuan finansial kepada kita merupakan seorang pria yang sangat mengerti arti dari kata persaudaraan, ia senantiasa buktikan dengan perbuatan-perbuatan mulianya, tidak hanya berhenti pada kata-kata.

Apa yang ada dalam hati kita melihat apa yang diperbuat dua orang teman tadi? Bahagia! ya tentu…

masih ada orang yang peduli pada kita. Berterima kasih! pasti… sulit mencari orang-orang baik di zaman ini. Mulia! iya donk… gimana enggak, nemenin di rumah sakit, ngasih duit ratusan ribu. Dan tentu masih sangat banyak lagi yang kita bisa berikan untuk mereka meskipun itu hanya dalam hati saja. Belum lagi pujian yang kita berikan kepada mereka secara lisan.

Berapa kali kita puji kebaikan itu, entah langsung kepada kedua orang itu “kamu memang baik sekali deh, seneng punya teman kayak kamu”, atau kita puji keduanya kepada orang lain “Waktu aku sakit dulu itu, si A kan selalu temenin aku di rumah sakit, si B itu kasih aku uang untuk bayar rumah sakitnya. WAH POKOKNYA EMANG ENAK PUNYA TEMAN YANG BAIK KAYAK MEREKA, SUSAH LHO CARI TEMAN KAYAK MEREKA SEKARANG INI.. MANA ADA SIH ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN KAYAK GITU TANPA PAMRIH KECUALI MEREKA MEMANG PUNYA HATI SEMULIA MALAIKAT.”

Belum lagi do’a yang kita berikan untuk mereka dengan penuh keikhlasan, dengan segenap kekhusyu’an hati:

“Semoga Allah memberi syurga-Nya pada kalian berdua”, atau dilain kesempatan: “Ya Allah, limpahilah si A dan si B itu pahala yang sangat besar karena mereka sangat mulia Ya Allah, mereka bantu aku ketika aku sakit Ya Allah, saat dimana orang lain justru tidak menunjukkan rasa kemanusiaan mereka”.

MEMBALAS KEBAIKAN YANG DEMIKIAN MEMANG SUDAH MERUPAKAN SUATU KEWAJARAN, BAHKAN MUNGKIN SUATU KEHARUSAN. Orang yang tidak mampu untuk memberikan balasan atas kebaikan yang seperti itu cenderung akan dianggap sebagai orang yang tak punya rasa terima kasih sama sekali.

NAMUN, TERKADANG KITA JUSTRU TAK PERNAH MEMBERI RASA TERIMA KASIH, DALAM SEMUA BENTUK EKSPRRESI, KEPADA ORANG TUA KITA…SEBUAH IRONI.

Jika teman wanita kita tadi menemani selama satu minggu di rumah sakit, maka coba ingat berapa lama ibunda kita tak tidur karena kita selalu rewel. Berapa lama ibunda membawa kita kemanapun. Ketika masih berupa janin kita sudah mulai merepotkannya. Semakin hari calon tubuh kita semakin berat. Ibunda sudah semakin sulit untuk bergerak, tidurpun tak bisa lagi semaunya.

Saat melahirkan kita, ibunda menjalaninya dengan mempertaruhkan nyawanya. Di masa bayi, ibunda memenuhi hari-harinya dengan tidur yang tak teratur. Jam lima pagi kita terbangun karena lapar, jam enam pagi kita dimandikan, jam tujuh pagi kita ngompol,… jam 12 malam kita menangis karena digigit nyamuk, jam 12.30 menangis lagi karena merasa tidak nyaman,… jam tiga pagi menangis pula hanya karena tak merasakan sentuhan jari ibunda, jam empat pagi minta digendong keliling rumah, jam lima pagi terbangun lagi karena lapar.

SIKLUS HIDUP IBUNDA DIPENUHI DENGAN KITA…KITA…DAN KITA…Berapa tahun itu semua berlangsung?! Sekarangpun ibunda di rumah sering khawatir dengan berbagai keadaan kita.

Jangan-jangan anakku kecelakaan, jangan-jangan anakku dipukul orang, jangan-jangan anakku kelaparan, dan seterusnya sehingga jangan heran jika kemudian seorang ibu tak tidur bila sang anak belum pulang, atau menelpon selalu sang anak bila anak tersebut merantau.

Semua itu dilakukannya dengan CINTA. Ia bahkan mungkin tak pernah minta kita untuk menemaninya ke rumah sakit (mungkin karena ia tahu kita akan menolaknya) atau belanja ke pasar, “Malu ah, masak udah besar kemana-mana masih sama Ibu. Anak mami banget deh”.

Kita hanya akan lihat sebersit kebahagiaan dimatanya yang keruh tapi teduh itu ketika pulang dari bepergian kita temui dia dan mencium punggung tangan mulianya.

YA … BAGI TIAP KITA, IA LEBIH MULIA DARI SEORANGULAMA SEKALIPUN.

Teman lelaki kita mungkin sangat dermawan. Namun, ingatkah kita dengan lelaki lain yang jauh lebih dermawan?! Sosok ayah. Sosok yang cenderung kita asosiasikan dengan kegalakannya, peraturan-peraturan keras, sok kuasa.

AYAH JELAS BUKAN MANUSIA SEMPURNA,TAPI PERNAHKAH KITA BERPIKIR BETAPA DERMAWANNYA DIA.

Entah sudah berapa “triliun” biaya yang ia keluarkan untuk kita, semenjak masih kecil hingga saat ini. Ia pergi sejak pagi hingga sore bahkan malam, untuk mencari rejeki yang Allah janjikan. Kemudian apapun yang didapatnya diberikan pada kita, keluarganya. Ia kecup pipi kita sebelum berangkat tidur, meskipun dia sangat lelah. Apa pernah ia minta semua itu dibayarkan kembali?! Kita hanya akan lihat ekspresi haru ketika kita pulang ke rumah dan berkata “Ayah, aku jadi juara lomba lukis”, atau “Ayah, aku sudah kelas enam sekarang”.

Ia memang “garang”, tapi itu terpaksa dilakukan karena dia ingin ada orang yang kita takuti sehingga ketika kita terlalu sulit diarahkan oleh ibunda maka masih ada ayahanda yang “bisa” mengarahkan kita.

Ia terbebani dengan KEWAJIBAN UNTUK MENJADIKAN KITA MANUSIA-MANUSIA YANG BERGUNA BAGI BANGSA, NEGARA DAN AGAMA.

Di zaman ini memang sulit mencari orang-orang baik yang memiliki hati seperti malaikat dan ketulusan yang tak berbatas. Anehnya, ada orang-orang seperti itu yang senantiasa berada di sekitar kita tapi kita tak pernah menyadari hal tersebut.

KITA TAK PERNAH MENYADARI BAHWA IBU DAN AYAH TENTULAH LAYAK DISEBUT “MALAIKAT”.

Teman kita yang hanya seminggu menemani dan memberi uang ratusan ribu, kita sebut seperti malaikat.

Namun sadarilah, ibunda menemani ratusan minggu dan ayahanda memberi uang “trilyunan” !!!.

KITA BUTA TERHADAP KEMULIAAN TERSEBUT. JANGAN-JANGAN, KITAPUN TAK PERNAH MENGANGGAP MEREKA SEMULIA ITU. LALU BAGAIMANA MUNGKIN KITA AKAN MEMBALAS KEBAIKAN MEREKA BILA KITA TIDAK MENYADARI BAHWA MEREKA SANGAT BAIK.

Mulailah untuk “melihat” dengan proporsional kebaikan-kebaikan yang ada di sekitar kita sehingga kita mampu melihat kebaikan orangtua.

Jika kita anggap membalas kebaikan merupakan sebuah kewajiban maka BALASLAH KEBAIKAN IBUNDA YANG TELAH MENJADI “MALAIKAT” PENJAGA KITA SEDARI KECIL, DAN KEBAIKAN AYAHANDA YANG MEMBERI KITA “BEASISWA” TANPA BATAS, TANPA SYARAT.

Mulailah dari hati kita. Katakan pada hati kita bahwa KEDUANYA ADALAH MAKHLUK YANG SANGAT MULIA, berterimakasihlah meski baru di dalam hati. Lalu bawa mereka dalam do’a-do’a kita.

“Rabb, ampuni dosa kedua orang tuaku. Rabb, jaga mereka dengan penjagaan Mu yang tak pernah tersalah karena mereka menjagaku dengan sepenuh kasih dan sayang mereka, dengan sepenuh jiwa mereka, dengan sepenuh hati mereka. Rabb, bahagiakan mereka karena ku tahu, aku hanya bisa beri mereka kebahagiaan semu dan sesaat, hanya Engkau yang bisa beri bahagia sejati.

Rabb, ampuni dosa mereka karena sesungguhnya orang-orang semulia mereka tak layak masuk dalam neraka Mu. Rabb, beri mereka ridha-Mu, meski mereka bukan sufi atau ulama, tapi hati mereka mungkin jauh lebih mulia karena mereka beri semua tanpa meminta apapun, mereka jalankan amanat-Mu untuk menjagaku”.

NYATAKAN CINTAMU PADA KEDUANYA, mungkin dengan kata “Ibuku sayang, saya mau berangkat dulu ya…” atau “Ayah enggak boleh kurang tidur lho, entar malah sakit”. Atau dengan perbuatan kita, mencium punggung tangan mereka atau membawa berita baik setiap kali kita kembali ke rumah yang penuh dengan cinta itu.

Ungkapkan kebaikan mereka pada para tetangga, agar orang-orang disekitar kitapun segera menyadari betapa mulianya mereka.

“Ayahku itu kalau malam sering bangun terus liatin anak-anaknya, ada yang enggak bisa tidur apa enggak, kalau enggak bisa tidur biasanya dia ajak kita ngobrol”. “Ayah dan aku sering rebutan kipas angin, abis rumahku kan panas jadi kalau mau tidur aku rebut kipas dari hadapan ayah, tapi nanti ayah akan segera sadar dan merebut kipas itu. Ujung-ujungnya sih aku tinggal nangis dan ayah pasti ngalah deh”. “Ibuku pintar banget deh buat es buah, wah kalau kamu makan pasti kamu pengen terus, pokoknya tak ingin kelain hati he..he..”.

Dan tentu saja MASIH ADA BANYAK EKSPRESI LAIN YANG DAPAT KITA GUNAKAN UNTUK “MEMBALAS” KEBAIKAN MEREKA, ASALKAN KITA MEMANG MAU UNTUK ITU, ITUPUN KALAU KITA MENYADARINYA.

NB :

Tulisan ini sebenarnya, dibuat untuk penulis sendiri. Untuk dipajang dalam ruang hati karena sangat menyadari dengan ketidaksadaran penulis akan kemuliaan ayah-bunda. Penulis sering melupakan hal tersebut.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

(Muhammad Aga S.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: