Menjahit Satin Kehidupan


Menjahit Satin Kehidupan

KH. Jalaluddin Rakhmat

Pada suatu waktu, seorang Turki mendengar cerita bahwa di kota tempat ia tinggal, hidup seorang penjahit yang pintar mencuri. Siapa saja yang menjahitkan pakaiannya di tempat itu, tanpa disadari, akan tercuri kainnya oleh sang penjahit.

Orang-orang berkata, “Penjahit itu mengecoh orang dengan tangannya yang ringan dan keahliannya mencuri.” Orang Turki itu menjawab, “Aku jamin aku takkan tertipu. Meskipun ia berusaha seratus kali menipuku, ia takkan berhasil mengambil sehelai benang pun dari kainku.”

Orang-orang berkata lagi, “Orang yang jauh lebih pandai darimu pun sudah pernah ia tipu. Janganlah kau terkecoh dengan kecerdasanmu karena nanti kau akan merugi.”Namun orang Turki itu malah merasa tertantang. Ia mengajak mereka bertaruh. Ia yakin penjahit itu takkan mampu menipunya.

Singkat cerita, si Turki itu pun datang menemui penjahit terkenal itu sambil membawa kain satin yang indah. Begitu ia masuk, penjahit licik itu menyambutnya dengan hangat. Ia loncat dari tempat duduknya, menyalaminya dengan penuh semangat, menanyakan kabar dirinya dengan keramah-tamahan yang belum pernah ditemukan oleh orang Turki itu sebelumnya.Diam-diam orang Turki itu mulai bersimpati kepadanya.

Setelah ia mendengar sambutan yang amat ramah itu, yang terdengar lebih indah dari nyanyian burung Kutilang, si Turki pun menyerahkan kain satin yang dibawanya. Penjahit itu berkata, “Wahai orang yang paling baik, aku akan berkhidmat kepadamu seratus kali.” Ia lalu segera mengukur kain dan mengelus-elusnya sementara bibirnya tak henti berbicara.

Ia bercerita tentang kisah-kisah yang teramat lucu. Orang Turki itu pun tertawa terbahak-bahak. Ketika ia tertawa, tanpa sadar matanya tertutup, dan saat itulah si penjahit menggunting kain satinnya secepat kilat.

Karena senangnya mendengar cerita sang penjahit, orang Turki itu lupa bahwa yang ia hadapi adalah seorang penipu besar. Ia tak ingat bahwa orang yang ada di depannya terkenal di seluruh dunia atas kemampuannya mencuri. Seraya tertawa lebar, orang Turki itu berkata, “Demi Tuhan, teruskan cerita-cerita lucumu itu karena mereka amat menyenangkan hatiku.”Penjahit itu lalu mengisahkan cerita baru yang lebih lucu lagi.

Ketika orang Turki kembali tertawa, si penjahit untuk kedua kalinya menggunting kain satin dan menyembunyikannya. Setelah itu, masih saja orang Turki itu berkata, “Ceritakanlah lagi lelucon-leluconmu padaku.” Dan berceritalah sang penjahit dengan lelucon yang lebih lucu. Kembali ia menggunting kain satin itu tanpa disadari oleh pemiliknya.

Orang Turki itu kini telah benar-benar menjadi korban dari humornya. Matanya tertutup, akalnya hilang, dan kesadarannya lenyap. Ia benar-benar mabuk akan lelucon. Dan lagi-lagi penjahit itu memotong kain satinnya.

Saat orang Turki meminta penjahit itu meneruskan ceritanya, sang penjahit menolak, “Berangkatlah hai orang yang tertipu. Celakalah bila aku bercerita lelucon lagi padamu, pakaianmu nanti akan menjadi terlalu sempit. Alangkah anehnya tertawamu. Sekiranya kau mengetahui sedikit saja dari kebenaran, niscaya kau akan menangis, bukannya tertawa….”

catatan

Kisah di atas, yang diceritakan Rumi dalam Matsnawi, buku keenam, memberikan pelajaran yang amat berharga. Kita adalah orang Turki yang datang ke hadapan sang penjahit. Penipu ulung itu adalah kehidupan dunia kita yang membawakan kepada kita cerita-cerita yang lucu dan menyenangkan.Tak jarang kita mabuk dengan cerita dunia. Tanpa kita sadari waktu pun menggunting satin kehidupan kita.

Satin adalah lambang kehidupan, yang kita simpan di hadapan penjahit untuk dijadikan jubah kesalihan. Namun karena tipuan dunia, yang memberikan hiburan tanpa henti pada kita, satin kehidupan itu tanpa kita sadari menjadi amat sempit. Dunia terus memotonginya dengan gunting waktu yang amat tajam.

Seperti kata Rumi, kita adalah orang-orang yang menjalani kehidupan ini, sementara hari demi hari menggunting sebagian besar dari satin kehidupan yang seharusnya kita persembahkan untuk dijadikan jubah kesalihan. Al-Quran mengingatkan kita, “Tidaklah kehidupan dunia ini kecuali permainan dan canda tawa. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am; 32)

Kisah suka dan duka adalah permainan dunia ini. Hendaknya semua itu tak membuat kita lupa akan tujuan lahir kita di dunia. Al-Quran mengatakan, “(Maha suci Allah) Yang menjadikan menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk; 2)

Sekali lagi, marilah kita berusaha menyelamatkan serpihan satin-satin kehidupan untuk kita jahit menjadi pakaian jubah kesalihan.

Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada program Percik Cahaya Ilahi di Radio Ramako, Jakarta, pada tanggal bulan Desember tahun 1997

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: