Kadang Aku Ketawa Sendirian


Kadang Aku Ketawa Sendirian

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Nungguin film drama korea berjam-jam

>Nyampe makan bubur dalam satu detik tiupan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Bangun susah-susah tengah malam

>Saksikan Filippo Inzaghi jaringkan gol tuk AC Milan

>Sampai subuh setengah delapan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Nimbrung ghibah teman-teman

>Sampai hafalan ayatku berhamburan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Sibuk ngurusin privasi orang

>Sampai planningku hari ini berantakan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Korek-korek agenda midnight akhir pekan

>Sampai mataku pening dan jenuh oleh tayangan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Aku musti sembunyi-sembunyi berkhalwat dalam kegelapan

>Sampai pulang kemalaman

>Alih-alih salah alamat tujuan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Musti menuh-menuhin perut dengan makanan

>Sampai musti bolak-balik buang kotoran

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain .

>Rela tidur bermalam-malam tuntaskan novel Agatha

>Sampai deru mata seperti pulsa

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain ..

>musti colak-colek remot sendirian

>Ketawa sendirian

>Bete sendirian

>Sebel sendirian

>Jayus sendirian

>Nangis sendirian

>Nyaci sendirian

>Ngebanting remot sendirian

>Kadang marah pada bangku tak bertuan

>Sampai lupa bahwa Iszail melihatku dari kegelapan

>Menggosok palu dan meriam

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain ..

>Aku sibuk nge-reply sms guyonan

>Padahal aku bisa call teman-teman

>tuk sekadar sampaikan ahlan wa sahlan

>Hidup ini serius kawan

>namun kadang kuanggap sebagai permainan

>Hidup ini perjuangan kawan

>namun kadang kuanggap sebuah rutinitas harian

>Hidup ini penderitaan kawan

>namun kadang kuanggap sebagai kesenangan

>Makan, tidur, ke toilet, main, tidur lagi tanpa sesuatu yang berarti

>Persis kambing yang tiap hari mengembik minta roti

>Kadang aku ketawa sendirian

>Begitu banyak aktivitasku yang tersia-siakan

>Sementara aku menganggap diriku telah berbuat kebaikan

>Kadang aku ketawa sendirian

>Ngapain mesti repot-repot pamer aurat di pinggir-pinggir jalan

>Kalo gelap kunyalakan

>Kalo nyala kugelapkan

>Padahal realitas fakta menyebutkan

>Di antara orang-orang yang hilang pikiran

>Belum pernah kulihat mereka memakai pakaian rapi dan menawan

>Pasti penuh sobekan dan tambalan

>Alih-alih

>Tanpa balutan

>Persis yang kukenakan

>Hanya

>Aku pake biore dia pake comberan

>Aku pake nivea dia pake debu jalanan

>Aku seharian di spa ia sepekan di kubangan

>Aku pake loreal ia pake kutu uban

>Aku putih ia hitam

>Cuma aku sering bilang ke orang-orang

>Ni … baru generasi peradaban

>Ah itu

>Cuma akal bulusku tuk tipu teman-teman

>Padahal sih yang kutulis di diari

>generasi peradaban setan

>Ngapain dulu waktu aku main ke Plasa Senayan

>Yang kupilih baju potongan-potongan

>Yang harganya  lebih mahalan

>Padahal yang sesuai ukuran

>Diobral sampai nggak ketulungan

>Kadang aku begitu bego

>Tapi pura-pura sok tahu

>Pura-pura sok ngetrren

>Pura-pura sok keren

>Tapi yang jelas aku dan dia sama-sama telanjang

>Bedanya ia punya keterbatasan dan ia ingin menjadi manusia biasa

>Sementara aku

>Aku punya banyak kelebihan

>Dan aku ingin menjadi sebaliknya

>Manusia gila

>Na lo!

>Aku merajut

>Padahal sebenarnya aku menguraikan benang Islam

>Aku membangun,

>padahal sebenarnya aku meruntuhkan fondasi Islam

>Aku meninggikan,

>padahal sebenarnya aku membanting Islam

>Aku memuliakan,

>padahal sebenarnya aku menghujat Islam

>Aku menghidupkan,

>padahal sebenarnya aku membantai Islam!

>Dan mereka pun mengenalku

>Tak ubahnya

>Kucing-kucing hedonis

>Penuh kemaksiatan dan pesimistis

>Tak punya pegangan

>Larut dalam terkaman hadarah kapitalis

>Dan mereka pun mengenalku

>Tak ubahnya

>Generasi-generasi tak beriman

>Berlumpur dosa dan kegelapan

>Dan mereka pun mengenalku

>Tak ubahnya

>Generasi yang mudah berganti peran

>Kadang iman dan kadang pada kekafiran

>Dan mereka pun mengenalku

>Tak ubahnya

>Setan

>Untuk menyebut pengemban risalah Islam

>Kini aku tahu dan sadar

>Bahwa

>Masalahnya bukan sekadar kemubahan

>Masalahnya bukan sekadar keharaman

>Masalahnya bukan sekadar kemaksiatan

>Tapi manakala kutulis kembali tujuan kehidupan

>Maka masalahnya adalah

>Tidak ada waktu dan kesempatan

>Untuk kembali kerjakan

>Semua yang telah aku tertawakan

>Karena diaryku hari ini telah penuh

>Agenda-agenda perjuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: