H u s


H u s

DALAM dunia jurnalistik, para praktisi selalu wanti-wanti pada calon wartawan atau wartawan muda agar tidak terjebak menjadi interogator.

Biarlah predikat itu melekat pada jaksa atau polisi. Kritis boleh, tapi tak usah menyudutkan sumber atau membuat mereka gemetaran saking takutnya.

Celakanya, predikat interogator itu justru menular pada wanita. Endemi itu, mungkin, disebabkan oleh cerita perselingkuhan yang makin permisif. ”Masak, laki-laki usia 90 tahun masih doyan hus,” katanya. Hus adalah singkatan hubungan suami, khususnya suami orang lain.

Rasa penasaran itu tambah parah kala seorang dokter wanita berkisah bahwa di tempat prakteknya, di sebuah hotel berbintang di Jakarta, 9 dari 10 pria minta diinjeksi agar tak kena penyakit kelamin saat berintim bukan dengan istri, yang hus-nya dinilai sensasional. ”Makanya, Jeng, jangan percaya 100% pada pria,” kata dokter itu.

Kontan, nasihat itu dipercayai kebenarannya. Soalnya, laki-laki sangat ringan langkah. Hus, memungkinkan berkencan dengan para wanita penggoda. Maka, tak usah heran jika banyak pria mengaku sibuk kerja nyatanya tidak berada di kantor. Entah ngendon di mana. Sudah begitu, handphone-nya dimatikan.

Masuk akal jika keberadaan suami pun dicek setiap saat. Atau, dari hari ke hari ditanyai dengan nada yang itu-itu melulu: ”Makan siang dengan siapa? Di mana?” Jika jawabannya terbata-bata –lantaran baru coba-coba berbohong– jangan harap bisa berkelit.

Di sisi lain, wanita selalu dibayang-bayangi usia. Apalagi, kala melihat ke cermin, satu dua keriput di bawah mata mulai tampak. Belum lagi, misalnya, rambutnya yang terlihat keperakan. Kemungkinan buruk lain, jika divorce, mantan suami tak sudi membagi harta gono-gini, atau tak bertanggung jawab pada anak-anak buah perkawinannya.

Maka, interogator adalah benteng terakhir sebelum rumah tangganya ambrol. Kalimat yang menyebutkan bahwa ”pria itu makin tua makin matang” lebih memicu stresnya. Khususnya anggapan kematangan dalam bercinta, yang tak ragu memilih lawan bercinta; mana yang (nantinya) membawa masalah dan mana pula yang aman-aman.

Itu sebabnya spedometer dicatat. Adakah beda angka mencolok waktu kendaraan itu dibawa kerja dan sepulang ke rumah. Jika angka itu di luar kewajaran, misalnya, kecurigaannya makin memuncak. Informasi pun disigi dari sesamanya. Info murahan –lantaran cuma omongan dari mulut ke mulut– pun bisa ditelannya mentah-mentah.

Suami salat, itu bukan jaminan. Suami on time tiba di rumah juga bukan ukuran kesetiaan. Sebab, banyak orang yang tampak alim nyatanya doyan anak baru gede. Pokoknya di-gebyah uyah, semua brengsek. Dalih bahwa mengumbar syahwat adalah dosa besar juga tak meluluhkannya. ”Mana ada maling yang mengaku mencuri,” tangkisnya.

Jika demikian adanya, keributan pun ditanggung meledak. Resep orang tua yang mengatakan, gunakan diplomasi ranjang di kala ”perang” tak mungkin terwujud. Sebab, emosinya lagi kacau. Juga, sabda Rasulullah SAW –yang menyebutkan bahwa ”orang yang paling Allah benci adalah yang paling keras dalam pertengkaran”– tak lagi teringat.

Celakanya, situasi begini malah dicari pemecahan lewat paranormal. ”Suami Ibu itu kalau ketemu dengan wanita yang cocok, bisa melupakan anak dan istri,” kata sang paranormal. ”Racun” itu membuat jantungnya tambah dag- dig-dug. Di matanya, sang suami, yang selama ini tampak penuh perhatian pada keluarga, sontak berubah 180 derajat.

Kepercayaan pada Pak Dukun justru tambah berat, karena tebakan pertamanya jitu. ”Suami Ibu tidak pernah berziarah ke makam orangtua, kan,” katanya. Benar. Memang, suaminya tidak pernah berziarah karena dalam pandangannya, mendoakan orangtua selesai salat sama nilainya dengan berziarah. Yang penting doanya, bukan kehadiran fisiknya.

Stresnya pun makin menumpuk. Apa boleh buat, itu buah pikiran sendiri. Bahwa stres bisa membuat orang linglung, bisa membuat seseorang tak produktif, di matanya cuma permainan kata-kata. Gombal! Dia benar-benar termakan oleh ucapan Pak Dukun. Padahal, mempercayai ramalan membuat doa dan salatnya tidak diterima Allah selama 40 hari. Sia-sia.

Namun, ramalan telanjur berkerak, ngintip di otak. Tak ada lagi petuah yang ampuh. Emosinya lebih mengedepan daripada nalarnya. Bayang-bayang ketakutan menghadapi hidup tampaknya lebih dominan ketimbang mencernanya dengan akal sehat. Rasanya, tepat apa yang dikatakan penyair sufi Jalaluddin Rumi: ”Kemarahan adalah raja di atas semua raja.”

Jika begitu adanya, solusinya adalah sabar. Sebab, sabar itu mematahkan nafsu amarah serta meningkatkan kebaikan akhlak. Anggaplah tuduhan teman seatap itu sebagai cobaan hidup. Apalagi, jika dikaitkan dengan asul-usulnya bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

Jadi? ”Perlakukanlah wanita dengan sabar dan hati-hati. Sebab, tak seorang pun menginginkan tulang rusuk itu patah,” kata seorang ustad.

1 Comment

  1. biltzkrieght said,

    02/08/2010 at 04:18

    jazakallohu khoir…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: