Kaca mata


Kaca Mata

Seseorang yang rabun, untuk memperjelas pandangannya maka ia perlu menggunakan kaca mata yang sesuai dengan kadar kerusakan matanya. Dengan begitu, barulah ia dapat melempar pandangan sekehendaknya tanpa mengalami gangguan berupa kaburnya pandangan.

Kadang kala pada kaca mata itu terdapat kotoran berupa uap air, debu, atau lainnya. Maka seseorang yang berkaca mata itu harus membersihkan kaca matanya. Karena apabila kaca matanya kotor, maka sama saja seperti ia tidak menggunakan kaca mata: pandangannya kembali kabur.

Rekan muda, begitulah ilustrasi manusia. Hati adalah mata yang rabun. Mata yang tak dapat melihat dengan jelas, selalu salah dalam melihat. Begitulah hati tanpa kaca mata.

Hati yang tanpa kaca mata, akan melihat dunia ini dalam pandangan yang salah: menjadikan segala ukurannya dengan dunia. Memandang derajat kemuliaan seseorang dengan harta, ketampanan, jabatan, dan parameter keduniaan lainnya. Begitulah hati orang yang tak berkaca mata.

Rekan muda, apakah kaca mata untuk hati itu? Yaitu iman. Iman-lah kaca mata untuk hati itu, yang membuat seseorang memandang segala sesuatunya dengan jelas, yaitu dengan parameter ukhrowi.

Seseorang yang gagah dan kaya di hadapan orang yang telah berkaca mata iman sama saja dengan orang yang miskin dan renta. Karena segala baik atau buruk di hadapan orang yang berkaca mata iman adalah tergantung dengan derajat ketaqwaannya.

Orang yang telah berkaca mata iman, insya Allah pandangannya tak lagi tersalah. Sudah jelas segala sesuatunya: hanya dengan ukuran ketaqwaan-lah seseorang atau sesuatu itu berharga atau tidak. Ia tidak lagi capek-capek mengejar dunia yang seperti daun hijau yang akan tua dan gugur. Ia – seseorang yang berkaca mata itu – dengan bantuan kaca matanya mampu mengumpulkan poin demi poin pahala – yang merupakan ukuran kemuliaan hakiki – di dunia ini. Poin-poin yang terserak bagaikan jarum di tumpukan jerami, yang apabila dicari oleh orang yang belum berkaca mata iman, niscaya ia tak akan menemuinya.

Rekan muda, kaca mata itu kadang kala berkabut, kotor, dan perlu dibersihkan agar pandangan kita kembali jelas. Maka itu, bersihkanlah kaca mata iman itu dengan istighfar. Karena setiap dosa yang kita lakukan, akan menjadi ronn (noktah) yang akan menutupi hati kita, dan mengotori kaca mata iman itu. Apabila kita lalai dalam membersihkan kaca mata itu, maka kotoran itu akan bertambah banyak dan menutupi pandangan kita. Bisa-bisa kita sama butanya dengan orang yang tak berkaca mata iman.

Allah berfirman tentang orang-orang yang tercatat dalam kitab Sijjin – yaitu kitab yang berisi Al-Fujjar (orang-orang durhaka) – dalam QS. Al-Muthofifiin ayat 15. “Sekali-kali tidak, sesungguhnya apa yang mereka usahakan itu (Ronn), menutupi hati mereka.”

Begitulah rekan muda, bersihkanlah kaca mata iman kita dari dosa. Agar pandangan kita kembali jelas. Apabila rekan muda melihat seseorang yang beriman masih saja menggunakan standar duniawi dalam memandang sesuatu, maka bisa dipastikan bahwa kaca mata imannya telah tebal oleh debu-debu dosa. Semoga kita tidak seperti mereka, dan senantiasa menjadi orang-orang yang disukai oleh Allah karena senantiasa membersihkan kaca mata kita.

sumber : WWW.Muslimmuda.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: