Dan Setan Pun Enggan Menggodanya


Dan Setan Pun Enggan Menggodanya

Suatu saat Dzunnun Al-Mishri memasuki Masjid Al-Haram. Ia melihat seorang lelaki tergeletak lemah tak berdaya di bawah naungan tiang masjid. Tubuhnya kurus dan tidak berbaju. Bibirnya yang pucat terus menerus menggumamkan nama Allah. Matanya menyimpan duka dan hatinya gelisah. Dzunnun datang mendekati pria itu dengan ucapan salam. Ia sapa lelaki itu dengan sebuah pertanyaan, “Siapakah Anda, wahai Tuan?” Orang itu menjawab pelan, ”Saya seorang asing.” “Tidakkah Tuan mempunyai nama?” tanya Dzunnun dengan heran. “Aku adalah orang yang dicari-cari,” jawabnya lirih. Dzunnun bertanya sekali lagi, ”Adakah yang ingin Tuan katakan?” Orang itu menjawab pertanyaan Dzunnun dengan suara tangisan. Air matanya makin deras ketika mata Dzunnun memandangnya tajam. Tanpa sengaja Dzunnun pun ikut haru melihatnya, ia jatuh iba dan menangis. Suasana yang terdengar ketika itu hanya suara tangisan yang mengungkapkan kesedihan.

Dalam kesedihan lelaki itu meninggal dunia. Dzunnun tampak sedih dan heran. Ia tutupi tubuh lelaki itu dengan kain pendek yang ia miliki. Lalu ia pergi mencari kain kafan untuk melindungi tubuh pria itu. Setelah ia kembali dan mendapatkan kain kafan, Dzunnun dikejutkan dengan hilangnya tubuh lelaki itu. Ia bertasbih seraya bergumam, “Siapakah yang telah mendahului aku untuk mengurusnya?”

Ketika itu juga Dzunnun diserang kantuk yang menyerang matanya. Ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dan mendengar sebuah suara yang menggemuruh, “Hai Dzunnun, inilah orang yang dicari-cari oleh setan di dunia, tetapi setan tidak dapat menemukannya. Ia juga dicari Malik, penjaga neraka, namun ia tak dapat diketemukan juga. Begitu juga halnya dengan Ridwan, penjaga surga, yang mencarinya terus tetapi tak mendapatkannya. Dzunnun bertanya di dalam mimpinya, ”Di manakah sekarang ia berada?” Terdengar jawaban, ”Ia berada di sisi Tuhannya.”

Kisah sufi di atas mengingatkan kita pada suatu proses ketika kita sedang berusaha meniti jalan ruhani untuk mendekap Tuhan. Banyak jalan yang ditawarkan kepada kita agar perjalanan mendekati Tuhan dapat dilalui dengan mudah. Jalan itu di antaranya muhasabah, muraqabah, musyarathah, dan musyahadah. Kemampuan kita untuk mencoba dan mendalami makna jalan-jalan tadi sangatlah terbatas dan mungkin betapa sulitnya kita untuk memahami dan mengamalkan jalan-jalan itu. Tetapi setidaknya haruslah dicoba sedikit demi sedikit untuk mengenal dan memahami jalan-jalan tersebut tanpa ada rasa lelah dan bosan. Ini semua dimulai dari adanya kemauan dan usaha dari diri kita untuk mencoba mendekati dan memahami jalan itu secara terus menerus, walaupun hanya sebatas niat tulus dan harapan untuk bisa mendekati Allah.

Ketika seseorang telah berniat teguh untuk mulai menyempurnakan ibadahnya kepada Allah melalui jalan-jalan ruhani, syarat yang penting selain adanya kemauan dan usaha, adalah berusaha mencari pengetahuan perihal bagaimana cara mendekati Tuhan. Karena hal ini sangatlah penting sebagai landasan berpijak untuk menuju sasaran. Salah satu pengetahuan yang penting itu adalah mengetahui jalan atau maqam yang menurut bebarapa sufi bervariasi jumlah dan caranya. Ada satu jalan, dari beberapa jalan yang ada, yang tentunya insya Allah bisa membantu kita untuk mudah memahami arti jalan-jalan atau maqam mendekati Tuhan. Jalan itu adalah jalan Taman Al-Fatihah. Jalan ini adalah jalan yang bertolak dari surat Al-Fatihah yang dimaksudkan untuk memudahkan kita mengkerangkakan dan mem-program diri agar konsentrasi perjalanan tetap terarah sesuai bangunan surat tersebut . Inti dari perjalanan ini sama dengan jalan-jalan yang ada, yang membedakannya adalah dalam hal kerangka pendekatan dan istilahnya.

Al-Fatihah adalah surat yang paling sering dibaca dan disebut. Al-Fatihah, selain meliputi seluruh makna dalam Al-Qur’an, juga memiki fenomena-fenomena penting lewat simbol ayat-ayatnya. Salah satu dari fenomena itu adalah simbol dari hirarki ayat dalam surat Al-Fatihah itu sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan cara mendekati Tuhan lewat jalan-jalan atau maqam yang banyak kita ketahui dalam jargon sufi. Seringnya Al-Fatihah dibaca dalam shalat dan zikir kita, diharapkan semakin menjadi inspirasi kita untuk mengingat dan mengamalkan fenomena Al-Fatihah, yang memiliki desain sebagai jalan ruhani bagi pendamba yang merindukan perjumpaan dengan Tuhannya.

Jalan-jalan tersebut bertolak dari inti makna ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Jalan-jalan itu adalah sebagai berikut: Pertama, yang merupakan taman dari pintu gerbang untuk mendekati Tuhan, adalah jalan ta’awwudz (jalan perlindungan). Jalan ini adalah jalan ketika kita berusaha melepaskan jubah keangkuhan diri dan menghilangkan ketergantungan total kepada selain Allah. Melepas jubah keangkuhan dimulai dengan mencoba melepaskan sifat-sifat hina yang ada di dalam diri kita yang bertolak belakang dengan ajaran Islam. Seperti hasad, riya’, kikir, tamak, dan sebagainya. Lalu diakhiri dengan mencoba mematikan sifat angkuh dan mengakui kelemahan diri kita di hadapan Allah. Setelah itu kita hanya bergantung dan memohon perlindungan hanya kepada Allah saja dari segala hal, terutama kita mohon dibantu dalam berjalan mendekati-Nya. Ciri ketika seseorang telah sampai pada jalan ini ialah seringnya ia berusaha membebaskan hatinya dari pengaruh setan dan berusaha sekuat mungkin memenuhi hatinya dengan mengingat Allah. Hiasan taman Tuhan adalah ta’awwudz .

Gambaran sederhana tentang jalan ini dapat dianalogikan dengan kasus ketika seseorang hendak mengdakan perjalanan jauh, yang pertama ia siapkan adalah bekal untuk melindungi diri dan memperlancar perjalanan. Bekal itu bisa berupa uang, makanan, alat pengaman, obat-obatan, dan sebagainya. Perjalanan yang dilengkapi dengan bekal yang cukup akan mempernyaman dan menghilangkan dari kecemasan. Begitu pula ketika kita hendak memulai perjalanan menuju Allah, kita memerlukan bekal yang dapat mempermudah dan memperlancar perjalanan kita. Bekal itu adalah pembersihan diri dari penyakit-penyakit hati dan pembebasan diri yang total terhadap setan dengan selalu menempatkan Allah di hati kita. Hal yang perlu perhatikan adalah merendah dihadapan Tuhan dan memohon bantuan dengan perlindungan-Nya yang kokoh.

Setelah kita berusaha memenuhi hati dengan mengingat Allah dan membebaskan diri dari penyakit-penyakit hati, kita beranjak ke jalan kedua yang merupakan pintu menuju ruangan utama, yaitu jalan basmalah (jalan pemberangkatan). Melalui jalan ini seseorang berusaha untuk memulai segala amalnya dengan berangkat atas nama Allah. Niat dan perbuatan yang akan dilakukannya adalah benar menurut syariat. Dalam istilah bahasa Arab, perbuatan tersebut disebut dengan husn fi’li dan husn fâ’ili. Amal yang dikerjakannya bersandar pada keridaan Allah. Ciri yang paling utama dari jalan ini adalah adanya usaha seseorang untuk mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak hatinya. Ia letakkan kehendak Allah di atas kehendak dirinya, dan tidak segan atau ragu dalam melakukan kehendak Tuhannya itu. Dan niat hatinya dipenuhi dengan keikhlasan dalam melakukan suatu amal baik kepada Allah dan manusia. Ia melakukannya tanpa pamrih. Jalan ini bisa diibaratkan ketika seseorang telah mempersiapkan bekalnya dengan cukup dan hendak memulai perjalanannya, yang perlu ia lakukan adalah menaati aturan dalam perjalan, seperti rambu-rambu lalu lintas. Rambu lalu lintas dapat diibaratkan sebagai aturan Tuhan (perintah-Nya). Pejalan ruhani yang baik tentu tidak akan melanggar rambu-Nya. Begitu juga dengan niat perjalanannya, ia tidak akan mencelakakan orang demi lancarnya sebuah perjalanan. Ia hanya akan melakukan amal perjalanan sesuai dengan ketetapan syariat. Perbuatannya benar dan niatnya menjaga untuk tidak melawan aturan-Nya. Orang yang mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan tidak punya niat ingin mencelakakan orang orang lain demi kepentingan pribadinya akan selamat dalam menempuh perjalanan. Orang yang melakukan perjalanan ruhani dan selalu menghiasi amalnya dengan bersandar kepada husn fi’li dan husn fâ’ili (mendahulukan kehendak Tuhannya), akan memperoleh kasih sayang Tuhan.

Jalan ketiga, yang merupakan ruangan utama untuk menemui Tuhan adalah jalan hamdalah (jalan pujian). Setelah hati sang penempuh jalan ruhani dipenuhi dengan mengingat Tuhan (jalan ta’awwudz) dan mendahulukan kehendak Allah (jalan basmalah), jiwa sang penempuh juga dipenuhi dengan keterikatan cinta yang dalam kepada Tuhannya. Saking penuhnya muatan cinta Ilahi di dalam hatinya, sampai-sampai pancarannya menghias ucapannya. Dari mulutnya hanya keluar nama Allah yang disertai dengan pujian dan kegelisahan. Pujiannya yang tulus khusus ia persembahkan hanya untuk Tuhannya saja. Kegelisahannya diakibatkan oleh pengakuan kelemahan diri dan pengakuan akan kasih Tuhan kepada dirinya. Hati penempuh jalan hamdalah selalu mengingat kasih sayang Allah yang luas, seakan akan ia sajalah yang memperoleh kasih sayang-Nya. Karena mengingat kebaikan-Nya, matanya mudah menangis. Karena mengingat perhatian-Nya, air matanya gampang menetes. Ia akui kekuasaan Allah dengan tulus tanpa cacat. Keikhlasan dan ketekunan ibadah mewarnai perilakunya. Baginya tidak ada kata berhenti dalam memohon petunjuk mulia dan pertolongan dari-Nya

Penempuh jalan ruhani yang telah sampai pada jalan hamdalah tersebut sama seperti orang asing yang dijumpai Dzunnun Al-Mishri. Orang asing itu hati dan ucapannya sangat dipenuhi dengan ungkapan kerinduan dan pengakuan atas keagungan Tuhan. Sampai ketika ia meninggal, jasadnya tidak terbujur begitu saja. Para makhluk Tuhan yang lain ingin segera merengkuh dan mengurusnya. Bahkan di dalam mimpi Dzunnun disebutkan orang itu sangat diburu dan didambakan para malaikat sekaligus setan. Malaikat Ridwan merindukan bertemu dan mengajaknya ke taman surga. Malaikat Malik mencari orang itu karena ingin mengucapkan salam kepada makhluk Allah yang mulia itu, dan memperkenalkan kepada ahli neraka sebuah hiasan surga yang indah. Yang paling menarik, setan memburunya terus menerus, tetapi tak berhasil mendapatkan dan menggodanya, karena jiwa orang itu telah bersinergi dengan aura cinta Tuhan yang menyelubungi seluruh tubuhnya, aura yang lahir dari jiwa yang penuh dengan kecintaan dan kegelisahan kepada Allah. Setan enggan mendekatinya karena kesulitan menembus energi cahaya auranya. Orang asing itu telah sampai pada ruangan utama Tuhan dan sudah dipersilahkan duduk di sisi Tuhannya dengan kebahagiaan yang tak terkira. Allâhummaj’alnâ kadzâlik, innaka ‘alâ kullî syaiin qadîr.

(Sugiarto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: