Al-Furqan: Mengungkap Rahasia Risalah Ilahi


Al-Furqan: Mengungkap Rahasia Risalah Ilahi

Di antara rangkaian ayat tentang puasa, terdapat ayat 185 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi: Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Quran, petunjuk bagi manusia, dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu dan Al-Furqan. Yang menarik untuk kita renungkan dari ayat ini dan yang sekaligus akan kita jadikan topik pembicaraan kali ini adalah bagian terakhir dari ayat itu; yaitu Al-Furqan.

Dalam terjemahan Al-Quran bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar, misalnya antara hitam dengan kelabu. Dengan demikian tidak ada lagi yang samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Karena kemampuan yang sangat tinggi untuk memerinci dan memperjelas inilah, Al-Furqan dijadikan Allah swt sebagai bagian spesifik dan tersendiri bagi suatu nubuwwah (kenabian). Dapat dikatakan bahwa Al-Furqan merupakan senjata khusus para nabi dan rasul dalam mengungkap dengan jelas makna risalah yang dititipkan Allah swt para mereka. Lebih khusus lagi, dengan Al-Furqan ini pula para nabi bisa mengungkap makna dan rahasia yang terkandung dalam kitab suci yang diberikan Allah swt kepada mereka.

Sebagaimana kita ketahui bersama, makna yang paling benar (hakiki) dari ayat-ayat suatu kitab suci adalah makna yang ditafsirkan sendiri oleh rasul-Nya. Keyakinan seperti itu pun masih kita rasakan sekarang ini ketika kita mencoba memahami ayat-ayat suci Al-Quran. Memang ada sebagian ayat yang mudah dipahami. Begitu ia dibacakan, kita langsung dapat memahami makna dan tujuan ayat tersebut. Tetapi ada pula ayat-ayat yang untuk mendapatkan maknanya yang akurat dan pas, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan yang dalam, bahkan kadang-kadang dibantu oleh beberapa disiplin ilmu tertentu untuk lebih memantapkan makna tersebut. Ada juga ayat-ayat yang memang sangat sulit dan rumit, sehingga kita sendiri merasa tidak mampu untuk mengungkapkannya dengan pas. Walaupun maknanya secara umum sudah didapatkan, kita masih merasa tidak puas dengan makna tersebut, karena dalam hati kecil kita, kita merasa yakin sekali bahwa ayat itu mempunyai makna yang sangat dalam dan tidak sekedar apa yang tersurat.

Untuk menghilangkan ketidakpuasan ini, hati kita pun akan terusik dan bertanya-tanya, bagaimana Rasulullah saw menafsirkan ayat tersebut. Semua ini menyadarkan kita bahwa untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekali pun ia seorang profesor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang mempunyai maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu, sampai ke tingkat para nabi yang mempunyai nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Quran mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53: Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu dapat petunjuk.

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab Taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki.

Dalam ayat lain yang maknanya sejalan dengan ayat ini, Al-Quran menyebutkan: Telah Kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48). Kita mengetahui kedua nabi ini diutus pada waktu yang bersamaan dan kitab suci yang diturunkan ialah Taurat. Kita tahu pula bahwa kitab suci itu diturunkan kepada Nabi Musa as, maka untuk itu tidak perlu diturunkan kitab suci yang khusus bagi Nabi Harun as. Bagi Harun hanya diberikan senjatanya saja dalam menafsirkan Taurat, yaitu Al-Furqan.

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad saw, yaitu dalam ayat: Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad saw) Al-Kitab (Al-Quran) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali-Imran: 3-4).

Dari penjelasan ayat-ayat ini dapat dilihat bagaimana tingginya derajat Al-Furqan ini sehingga oleh Allah disejajarkan dengan figur seorang nabi maupun nilai kitab suci. Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (nabi, kitab suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawanya dengan selamat dalam perjalanan kembali menuju Allah swt.

Yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut ialah; ketika kita mengetahui bahwa sekarang kita hidup di zaman yang tidak akan diutus lagi seorang nabi pun –karena telah diakhiri masa kenabian Rasulullah saw dan tidak ada nubuwwah lagi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, surat Al-Ahzab ayat 40- maka permasalahan yang timbul ialah: Apakah jembatan penghubung itu pun ikut terputus pula? Dengan perkataan lain, siapakah nanti yang benar-benar mampu mengungkapkan rahasia di balik risalah terakhir ini (Islam) atau siapakah yang mampu mengungkapkan makna yang hakiki dari apa yang terkandung dalam kitab Al-Quran? Sebagai ilustrasi, tadi kita telah menyatakan bahwa tafsiran yang paling benar dari ayat-ayat Al-Quran hanyalah yang diungkapkan sendiri oleh Rasulullah saw (karena adanya senjata Al-Furqan). Sedangkan persoalannya sekarang ini kita hidup ketika Rasulullah saw sudah tidak ada lagi.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapa pun dapat mengungkap segala rahasia apa pun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Quran maupun dalam sunnah Rasulullah saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah swt dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendakinya. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia suci atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Quran: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Quran: Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfal: 29)

Akhirul kalam, siapakah wali-wali Allah yang kepada mereka Allah mengamanatkan Al-Furqan ini? Adakah petunjuk-petunjuk agama yang mengisyaratkan tentang itu? Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan itu semua.

Disampaikan oleh Dr. H. Thola’at pada acara Kuliah Tujuh Menit (Kultum) salat tarawih PAPDI, Palembang, pada tanggal 19 Desember 1999.

(dr. H. Thala’at)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: